Aisyah Mawarku #02

0
260
views

Jendela


Sesungguhnya pengharapan itu membuka pintu pintu syaitan

Ku biarkan hati ini pulih terlebih dahulu. Sebelum, aku bisa menata hati untuk siap hadir di acara walimah Aliyah dan suaminya.

Aku harus ikhlas walau berat. Mau tidak mau harus mau. Kenyataanya inilah takdir. Bukankah ciri seorang hamba itu adalah lapang dengan segala ketentuan Tuhannya?

Harus aku akui, itu tidak mudah. Butuh waktu untuk mengobati, butuh hati untuk dihiasi dan tentunya butuh pengganti untuk mengisi.

Hari ini, jadwalku kosong. Masih di tempat yang sama Bandung berada. Dengan Pak Irwan yang masih setia menemaniku hingga esok kami harus kembali ke kota panas itu, Depok. Cuaca hari ini cerah seperti biasanya. Namun, tetaplah tidak merubah suasana hati yang masih deras oleh balutan luka. Entah sampai kapan Aliyah merajai hati ini? Sehingga tak menyisakan ruang untuk orang lain masuk dan bertahta di dalam hati.

“Aliyah tak adakah rasa ibamu padaku? Jika cintamu telah hilang setidaknya ada rasa iba yang masih aku harapkan dari dirimu,” rancuku dalam hati.

Keindahan kota Bandung tak sedikitpun membuatku tertarik untuk menjelajahi. Karena aku sudah merasakan lelah yang melebihi lelahnya fisik.

Suara handphone berdering, membuyarkan lamunanku sejenak. Ternyata ada panggilan masuk dari seseorang yang tak ada namanya.

“Assalamualaikum,” sahut orang disebrang sana.

“Wa’alaikumssalam Warohmatullah, afwan ini siapa?” Tanyaku.

“Afwan, ana kak Bayu mad. Maaf ganggu loh,” jawabnya.

Aku mulai teringat kemarin malam kak Bayu meminta nomor handphoneku.

“MasyaAllah, kak Bayu. Gak apa-apa kak. Sebelumnya ada apa kak?” Tanyaku.

“Mad, hari ini antum sibuk gak? Datanglah ke rumahku,” sahut kak Bayu antusias.

Aku merenung sejenak, “InsyaAllah, dimana rumah kak Bayu?” Lagi-lagi ku bertanya.

“Aku kirim lewat whatsapp mad alamatnya, ya sudah ku tutup dulu telponnya. Ana tunggu ya kedatangan antum, assalamu’alaikum,” ucap kak Bayu sebari memutuskan sambungan telpon yang belum sempat ku balas salam.

Aku menggelengkan kepala sebari menjawab salam, “Walaikumssalam Warohmatullah.”

Aku mulai penasaran maksud kak Bayu menyuruh datang ke rumahnya. Sejak malam kemarin, beliau begitu antusias kepadaku. Namun, tidak apa-apalah sekalian silaturahmi dan mencairkan suasana hati yang masih membeku.

***

Setelah berbincang di telponan tadi, kak Bayu langsung mengirim alamatnya lewat whatsapp. Perjalanan ke rumah kak Bayu cukup cepat dikarenakan jaraknya tidak jauh dari rumahku. Seperti biasa aku bertamu bersama Pak Irwan. Kini aku telah sampai di rumah kak Bayu. Rumahnya sederhana, berwarna biru, halamannya tak terlalu luas namun banyak bunga di depan halamannya. Hingga tak terasa, bibirku tersenyum dengan sendirinya. Ada rasa nyaman yang datang tiba-tiba.

Tak lama suara kak Bayu membuyarkan lamunanku. Segera ku ucapkan salam dan melangkah mendekati kak Bayu yang sedang berdiri diambang pintu.

“Assalamualaikum,” ucapku seraya bersalaman dengan kak Bayu.

“Wa’alaikumssalam Warohmatullah, Alhamdulillah ya antum ke sini juga. Mari duduk mad. Ana mau ambilkan dulu minumnya,” jawab kak Bayu sebari melenggangkan kaki masuk ke dalam rumah.

Aku dan Pak Irwan segera duduk di kursi kayu yang telah disediakan. Kursi minimalis yang berwarna coklat tua. Nyaman sekali rasanya duduk disini sebari melihat pemandangan orang-orang yang berjalan berlalu lalang.

Tak lama kak Bayu datang sebari membawa nampan yang berisi air teh dan kue.

“Mari mad minum dulu, mari pak,” tawar kak Bayu.

Aku membalasnya dengan senyuman seraya menyeruput perlahan air teh. Manis, itulah yang ku rasa.

“Mad, sebenarnya ada yang mau ana bicarain sama antum,” ucap kak Bayu membuka obrolan.

Aku mengangguk sebagai jawaban.

“Maukah kamu mengenal adikku?” Tanya kak Bayu membuat detak jantungku nyaris copot.

Benar dugaanku, ada yang aneh dari kak Bayu. Nafasku mulai gusar. Bingung harus menjawab apa. Takutnya, jawabanku salah. Bagaimanapun kak Bayu adalah senior di pondok.

“Nama adikku Aisyah. Dia lulusan pondok dari Tariem. Selama 6 tahun dia mondok selama itu juga dia berubah. Aku yang bergelar kakaknya sulit mendekatinya. Dia orangnya jarang banyak bicara. Dia memang pintar juga cerdas. Dan aku yakin dia akan menjadi istri sholehah. Ya, insyaallah dengan ilmunya dari Tariem.”

Ku tatap teh yang disuguhkan oleh kak Bayu. Bukan berarti tak mendengarkan, namun harus aku akui aku tertarik bagaimana ceritanya.

“Aisyah gadis yang baik, mad. Maka aku ingin memilihkan dia sosok teman hidup yang baik. Menurutku, sejak mengenal antum di pondok. Aku yakin antum yang terbaik buat Aisyah. Sejak kepulangannya beberapa bulan lalu, dia mulai sibuk mengurus anak-anak TPA di masjid tempat antum waktu mengisi kajian. Dia juga sama kayak antum, sering ngisi kajian. Maklum saja dia sudah jadi ustadzah disana walau gak lama,” lanjut kak Bayu.

Kini tatapanku berpindah, menatap lekat manik kak Bayu. Bukan karena marah, hanya saja aku ingin tau cerita lebih lanjutnya. Sedikit membuatku teringat saat kejadian dimana aku melihat sosok perempuan bercadar pada saat berdakwah, apakah itu sosok Aisyah?

“Sekarang Aisyah tidak ada dirumah. Sejak pagi dia telah berangkat ke Garut untuk mengisi kajian di pondok,” ucap kak Bayu sebari menyeruput teh buatannya.

Aku mengangguk tanda faham, “diantar siapa kak?” Tanyaku.

“Diantar sama umi. Setelah kepergian abi, ana jadi pemimpin di rumah ini. Berat rasanya, mad. Apalagi mempunyai adik perempuan. Banyak kekhawatiran yang mencekam. Maka dari itu aku ingin menikahkan kamu dengan Aisyah,” jelas kak Bayu sambil memandangku seraya untuk meyakinkan.

Aku menarik nafas gusar, belum bisa ku jawab untuk sekarang-sekarang.

“Cobalah pikir-pikir dulu mad, ana berharap kamu memutuskannya,” pinta kak Bayu.

“InsyaAllah kak, ana pikirkan kedepannya. Adapun masalah ini, ana gak mau terburu-buru. Biarkan semuanya saling mengenal terlebih dahulu. Lagian, ana masih sibuk beberapa waktu ke depan. Ini juga alhamdulillah, ada waktu sebentar supaya silaturahmi kesini,” jawabku.

Kak Bayu hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Bukan Muhammad mau menolak kak, tapi pernikahan bukan sekedar mereguk madu saja. Ada rasa yang harus dipupuk di dalamnya,” ucapku pelan.

“Apa rasa itu penting mad?” Tanya kak Bayu serius.

“Menurutku penting,” jawabku asal.

“Mad, kalau antum nyari istri karena cinta. Maka siap-siap antum akan menderita dan menjadi budak daripada cinta. Tapi kalau antum nikah karena ibadah. InsyaAllah nikahlah yang membuat cinta menjadi budaknya,” tutur kak Bayu meyakinkan.

“InsyaAllaah, Muhammad pikirkan dengan cepat,” sahutku.

Kak Bayu hanya tersenyum sebagai jawabannya.

Selanjutnya kamipun bertukar cerita dari mulai kehidupanku sekarang hingga tentang cerita kak Bayu bersama Aisyah waktu ke Tariem, Yaman.

Sesekali, aku memang sempat tertarik. Tapi, cerita itu belum sepenuhnya membuatku lupa akan luka.

Kerap kali seseorang membahas wanita. Begitu pula kerap kali ku rasakan luka.

Wanita, kau memang mawar.
Melukaiku saat aku mulai menyentuhnya.

***

Setelah perbincangan dengan kak Bayu cukup lama, akhirnya aku memutuskan untuk pamit. Sepenjang perjalanan pulang permintaan kak Bayu terus mengusik pikiranku.

Aku tak bisa sendiri untuk masalah ini, aku butuh umi dan abi. Mereka pasti mengerti dan akan memberikan jawaban yang terbaiknya.

Mendengar dari cerita yang dipaparkan kak Bayu. Aisyah pasti sosok perempuan yang sholehah. Tak perlu di tanya lagi jika di lulusan pondok di Tariem. Disana memang tempatnya bidadari bumi bersinggah. Dipenuhi ibadah siang dan malam. Tidak berkomunikasi dengan lain mahram bahkan namanya juga jarang dikenali. Beda dengan wanita jaman sekarang sibuk dengan memperkenalkan dirinya apalagi sampai mempamerkan auratnya. Seakan-akan kematian adalah dongeng yang tidak ada pertanggung jawabannya.

Namun semoga manusia semuslim wajiblah kita mendo’akan mereka. Semoga Allah memberikan taufik serta hidayah bagi orang yang masih di dalam jalan kegelapannya karena Maha Rahman dan Rahimnya lah kita semua bisa kembali ke jalan yang benar.

Setelah sampai rumah, aku bergegas merapihkan pakaian untuk pulang ke Depok. Ada sesuatu yang harus segera ku beritahukan kepada umi dan abi perihal pernikahan ini. Semoga abi tau, bahwa aku belum siap.

Sekitar beberapa jam di perjalanan membuat lamunanku tersadar. Bahwa, aku memang butuh sosok mawar yang menarik hatiku paksa. Mau tidak mau aku harus bisa memiliki mawar. Agar duri yang kemarin secara perlahan akan terlepas. Membuat sosok mawar yang baru akan leluasa merajai singgasana hati.

“Aliyah, kau memang duri sekarang. Walau dulu kau adalah mawar yang selalu aku banggakan. Aku tak menyalahkanmu sepenuhnya, memang benar adanya bahwa pengharapan membuka pintu-pintu syaitan,” gumamku dalam hati.

Hidup tanpa cinta adalah sebuah derita. Bagaimana tidak, karena segala sesuatu harus dengan cinta. Beribadah kepada Allah tentulah harus dengan cinta agar setiap badan ini bersujud dan meminta semua tidak terasa lama, malah menjadikan terasa ni’mat yang ingin dilama-lamakan.

Baiklah, sebentar lagi aku akan mendengar bagaimana jawaban umi dan abi. Semoga jawabannya membuat aku tidak terlalu terbebani dan memberi jawaban sesuai kehendak hati.

***

Setelah mengarungi waktu diperjalanan cukup lama akhirnya aku dan pak Irwan sampai. Pak Irwan izin pamit pulang, karena kebetulan beliau adalah tetangguku di Depok.

Aku bergegas masuk ke dalam rumah, “Assalamualaikum,” sahutku.

“Wa’alaikumssalam Warohmatullah, alhamdulillah ustadz muda umi udah pulang,” jawab umi sebari menyuguhkan senyuman manisnya.

Ku tarik tangan umi untuk segera ku cium.

“Umi abi kemana?” Tanyaku.

“Abi ada di dalam sedang nonton tv mad, yaudah samperin abi,” jawab umi.

Aku hanya mengangguk, dan menemui abi. Seperti biasa ku ucapkan salam terlebih dahulu dan mencium tangannya.

“Gimana kabarmu mad?” Tanya abi sebari mentapku dengan senyuman.

“Alhamdulillah bi,” jawabku sambil tersenyum.

“Kayaknya ada yang mau kamu bicarakan ya mad,” sahut abi menebak. Tapi tebakannya benar adanya.

Aku terkekeh malu, “Benar abi, ada sesuatu yang Muhammad ingin ucapkan,”

Abi hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Kemarin Muhammad bertemu dengan Kak Bayu. Dia adalah senior Muhammad di pondok. Namun, pertemuan kemarin kak Bayu meminta sesuatu kepada Muhammad. Dia meminta Muhammad menikah dengan adiknya Aisyah,” jelasku.

Belum sempat aku melanjutkan, abi dan umi sudah tersenyum dan serempak berucap hamdallah.

“Abi setuju? Kan belum dengar ceritanya dengan jelas,” ucapku sebari menatap keduanya bergantian.

“Oh iya, abi lupa. Abi seneng saja ada yang mau menikahkan anak abi dengan seseorang. Lanjutkan kalau begitu Mad,” pinta abi.

Aku mengangguk, “Namanya Aisyah, dia lulusan dari Tariem bi. Mengenai cerita yang dipaparkan kak Bayu sepertinya dia wanita sholehah,”

Aku menggantungkan ucapan membuat alis abi dan umi mengerut tanda tanya.

“Kayaknya Muhamamd gak siap bi, walau Muhammad tau latar kehidupannya baik melebihi Aliyah, tetapi Muhammad masih enggan untuk berjalan kesana,” kataku pelan.

Abi tersenyum menatapku, “Mad, kalau kamu tidak menyembuhkan luka itu dengan paksa. Maka prosesnya akan lama. Jadikanlah hadirnya Aisyah sebagai bentuk pengobatanmu. Abi tau ini sulit, mengingat kejadian mu dengan Aliyah masih belum lama. Tetapi membiarkan sesuatu yang baik juga tidaklah benar. Abi yakin semua ini takdir terbaik, percayalah mad,” tutur abi membuat ulu hatiku nyeri.

Sementara waktu jawaban abi masih ku anggukan. Namun, aku belum memberi jawaban yang pasti siap atau tidak. Setelah memberi penjelas bahwa aku butuh waktu. Abi dan umi akhirnya memahami, dan menyuruh shalat hajat serta istikhoroh.

Jawaban yang paling tepat hanyalah ada pada Sang Maha Mengetahui, kejadian setiap hamba adalah takdir yang sudah ditetapkan. Sebenarnya semua takdir itu indah. Tergantung cara pandang kita untuk menerima atau tidak.

***

Sekitar satu minggu belum aku jawab mengenai usulan kak Bayu. Masih aku istikhorohkan dibarengi puasa agar lebih mantap hasilnya. Namun, aku terdiam sejenak.
Ketika kerap kali dimimpiku bertemu sosok perempuan yang bercadar. Aku memang tidak tau bagaimana rupanya. Namun hati ini meyakini dia adalah Aisyah.

Pagi ini, jadwalku kosong setelah kemarin-kemarin jadwal yang begitu padat hingga pulang selalu larut malam. Aku tidak suka menonton tv, sementara abi penonton setia. Hingga terpaksa kalau mau ngobrol harus duduk dan menyaksikan sejenak tayangan di tv.

“Abi,” sahutku.

“Iya ada Mad?” Tanya abi yang tetap fokus menonton tv.

“Muhammad sudah dapat jawabannya,”

Abi menatapku dengan senyuman teduhnya, “Alhamdulillah, lalu bagaimana jawabannya?”

“Sepertinya Muhammad akan terima permintaan kak Bayu, sudah lebih hampir satu minggu jawaban dari istikhoroh Muhammad tetaplah sama,” tuturku pelan. Walau berat, aku harus mengungkapkannya pada abi.

Bagaimanapun, aku manusia. Butuh proses untuk bisa pulih. Walau sebenernya hatiku hambar mengenai semua ini.

“Alhamdulillah mad, abi seneng dengernya. Hubungi kak Bayu, secepatnya kita silaturahmi ke rumahnya.”

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

Jauh di dalam hatiku ada rasa enggan yang begitu menyelimuti. Malas, ingin marah, dan tak tenang dengan keputusan yang baru saja dipaparkan. Tapi, aku yakin ini jawaban Allah. Lantas untuk apa ku habiskan waktu di pondok mencari ilmu Allah jika tidak yakin terhadap qodho dan qodarnya?

Semoga pernikahanlah yang memupuk cinta, tanpa adanya perbuatan yang nista. Menjadikan ladang ibadah sepenuhnya bukan untuk meluapkan nafsu belaka.

 

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here