Aisyah Mawarku #01

0
145
views

Dinding


Ku tatap sebuah tembok besar dihadapanku. Merenungi setiap detik yang mengikis pertahanan diri.
Nafasku terisak, mengingat setiap hal yang terjadi.
Aliyah, tunanganku.

Dia kini duduk menundukkan kepalanya di depan netraku. Sering kali, buliran beningnya berlari-lari di pipi putihnya.
Kau memang bagaikan tembok, Al. Tak ada rasa, tak ada kecewa saat kau pilih dia dibanding aku.

3 tahun perjuanganku kini kandas. Aliyah memutuskan untuk mengarungi lautan kehidupan bersama pria lain. Pria yang lebih dahulu mendatangi kedua orang tuanya.

Aku tak berhenti bertanya-tanya. Apa salahku? Apakah aku terlambat. 3 tahun yang lalu, ku sudah memutuskan akan melamarnya. Hingga ku bawa kedua orang tuaku menyematkan cincin di jari manisnya. Aku memang tidak bisa langsung melamar Aliyah pada saat itu, karena harus melanjutkan belajar di pondok pesantren di kota Malang, Jawa Timur. Sedari kecil sudah terbiasa hidup jauh dari sang pintu surga, karena harus mencari ilmu di tempat yang mulia. Sehingga, ketika aku sudah beranjak dewasa. Barulah aku pulang dan tentunya bertemu dengan Aliyah disalah satu majlis ta’lim di dekat rumah.
Dia manis, cantik, pendiam, ramah dan insyaallah sholehah. Disanalah hatiku tertarik. Menari-nari menyalakan kobaran cinta. Hingga ku memberanikan diri mendekatinya dibantu saudaraku Adam, untuk mendekatinya. Karena kebetulan Adam adalah gurunya mengaji.
Niatku diterima dengan baik, dan sampailah aku mengikat janji jikalau aku beres masa belajar di pondok pastilah ku segera melamarnya. Aliyah setuju dan siap menungguku.
Ketika kesiapanku sudah bulat dan masa belajar dipondok sudah lulus.

Namun..
Takdir berkata lain ..

“Aliyah,” sapaku.
Dia masih terdiam membisu.
“Ceritakanlah padaku mengapa kau memilihnya?” Tanyaku tanpa jeda.

Isak tangis Aliyah semakin nyaring. Hati ini perih rasanya. Tapi harus ku tahan agar kuat menanggungnya.

“Kak Muh.. hammad, ma.. maafin .. Aliyah,” ucapnya terbata-bata.

Aku mengangguk pelan seraya tersenyum paksa. “Ceritakanlah, agar aku memahami.”

Aliyah menarik nafas panjang. “Raihan, melamarku sebelum kepulangan kak Muhammad dari pondok. Aliyah harus mengakui, Aliyah salah. Tetapi…”

Ucapannya menggantung.

Aliyah menghapus bulir bening di netranya dengan kasar, “Tapi menunggu Kak Muhammad adalah ketidakpastian yang membuat Aliyah tersiksa.”

Kini pertahananku roboh, bagaikan tertidur ditumpukan paku. Gadisku tersiksa menunggu. Apakah aku terlalu egois?

Ku tarik nafas dalam-dalam, “Jadi karena sebab itu Aliyah tak kuat menungguku?” Tanyaku hati-hati.

Aliyah mengangguk.

Nafasku gusar, “Baiklah, kini sudah jelas adanya. Pernikahanmu akan dilaksanakan minggu depan. Aku tak tau kapan Raihan melamarmu, dan ku tak tau kau begitu tersiksa menungguku. Maaf..” jelasku.

Aliyah menatapku. Walau berulang kali ku alihkan netra ini agar tak kembali menatapnya.

“Kak Muhammad, carilah yang lebih baik dari Aliyah. Maafin Aliyah,” ucapnya pelan.

Apa? Jadi inilah balasan rasaku?
Gadis yang kucintai berkata begitu?

“InsyaAllah akan ku cari dan selamat untuk kehidupanmu selanjutnya. Aku permisi. Assalamualaikum,” ucapku seraya beranjak berdiri dan pamit.

“Wa’alaikumssalam Warohmatullah,” Jawab Aliyah.

Hatiku hancur, jiwaku terasa terombang-ambing. Semua harapan dan do’a kini telah terbang bersama angin yang menggoyangkan alam.

Kini rumah yang dulu selalu menjadi tujuanku, harus ku tinggalkan selamanya. Sepasang suami istri yang ku harap kelak menjadi mertuaku harus tetap menjadi saudara semuslim saja.

Pak Arman menghampiriku dengan tertatih-tatih, maklum aja dia sudah berusia lanjut. Pak Arman inilah yang ku harap menjadi mertua, ayah Aliyah.

“Maafkan anak bapak ya Muhammad,” ucap Pak Arman lembut.

Aku mengangguk sebagai jawaban.

“Bapak selalu do’akan yang terbaik untukmu, datanglah kemari tak perlu sungkan,” lanjut Pak Arman.

“InsyaAllah pak, dan terima kasih do’anya. Mohon maaf segala kesalahan Muhammad, tapi Muhammad harus segera pamit pak,” tuturku.

“Baiklah hati-hati dijalan,”

Aku menangguk kembali sebagai jawaban, “Assalamualaikum pak,” ucapku seraya melangkah menuju mobil hitam hadiah dari kedua orangku setelah lulus dari pondok dan menjadi juara pertama pararel.

“Wa’alaikumssalam Warohmatullah,” jawab Arman.

Kini langkahku benar benar hilang di tanah itu. Ku nyalakan mesin dan mulai meninggalkan rumah yang selalu ku rindu. Bukan rumahnya yang membuat hatiku berkecambuk rindu. Tetapi salah satu penghuninya, ialah Aliyah.

Namun kini, hanya sekedar kenangan yang menjelma menjadi duka dan lara. Membawa ku ke alam sengsara. Menyiksaku hingga menderita. Oohh … Aliyah, mengapa harus begini, batinku teriak.

***

” Duhai langit mengapa kau menangis
Memberi tanda tanya di ulu hati ini
Mengapa seakan akan mengerti
Bahwa hatiku juga menderita
Meneteskan air mata yang tak dapat ku seka ”

Langit menangis, menampakan deritanya. Bibirku tersenyum getir. Mengingat kenangan yang baru saja dilalui. Apalah arti kepulangan ini jika bunga yang ingin ku petik sudah lebih dulu dipetik orang lain.
Masih adakah diluar sana bunga yang membuat hati ini tertarik?

Ku tatap gumpalan hitam di langit, mungkin tangisannya masih akan lama.
Ku buka catatan di handphone dan melihat jadwal kajian untuk besok. Ya, setelah kepulangan dari pondok sudah banyak jadwal kajian yang harus ku isi. Alhamdulillah, rezeki dari Maha Rahman tidak pernah berhenti.

Harus ku akui, perpisahan ini adalah takdir. Baik aku atau Aliyah memang sudah ditetapkan untuk tidak bersatu.

Ku tarik nafas, dan merenung sejenak. Lalu siapakah yang akan bersatu denganku? Sedangkan luka ini tak yakin akan kering untuk waktu yang akan datang. Rasanya, perlu puluhan tahun untuk sembuh. Namun, entahlah biar Sang Maha Cinta yang menentukkan.

Besok jadwal kajianku di Depok, jam 13.00 siang. Untungnya rumahku tidak jauh dari tempat kajian. Jadi bisa sedikit bersantai. Aku memang bukan asli orang depok, tetapi sejak aku mondok umi dan abi memutuskan untuk pindah. Tempat asli kami di Bandung, yang katanya kalau aku sudah menikah maka rumah di Bandung resmi diberikan untukku. Aku anak kedua dari dua bersaudara, kakakku Ahmad yang kebetulan sudah menjadi dosen di salah satu fakultas di Depok dan tentunya sudah berkeluarga. Jadi, alasan umi dan abi pindah ke depok tentunya agar lebih dekat dengan Kak Ahmad.

Tak lama suara adzan berkumandang. Segera ku ganti pakaianku dengan gamis putih. Pakaian khas sewaktu dipondok dan tentunya pakaian kesukaan Rasulullah. Tak ketinggalan peci putih dan ridak putih dari Yaman yang sempat ku beli sewaktu dauroh tahun lalu.

Langkah ke mesjid kali ini sedikit membuat ulu hatiku nyeri, ada rasa yang tak bisa ditahan. Ingin rasanya menjerit, meraung, berteriak mengenai duka dan lara yang membuat derita.

Setelah 30 menit shalat magrib berjama’ah disertai wirid dan dzikir, aku kembali terdiam menatap lafadz yang Maha Suci. Banyak pertanyaan yang sudah ingin ku luapkan. Tetapi yakinlah, Sang Maha Mendengar selalu mendengar tanpa mulut ini bersuara. Akhirnya, bulir bening keluar dari netraku.

Tak sopan, dia keluar tanpa izin.
Membuatku semakin yakin, aku sedang menderita sekarang.

***

Setelah shalat isya berjamaah, aku langsung pulang. Kepalaku terasa berat dan tubuh ini mulai lemas. Segera aku ambil air wudhu dan duduk sejenak di depan jendela kamar.

” Ya Rabb,, apakah sesakit ini rasanya berpisah. Hingga bukan hanya hati yang menderita tetapi tubuhku, ” ucapku dalam hati.

Tubuh ini sudah mulai menarik paksa agar istirahat. Dengan pelan ku mulai merebahkan diri di kasur ukuran size king.
Nafas ini gusar, namun sering ku coba untuk sedikit mengaturnya agar lebih tenang.

“Ayolah, Muhammad. Kau bisa bangkit mencari mawar yang akan membuatku menarik,” batinku berteriak.

Hingga tanpa terasa, mata ini terlelap dengan jiwa yang dibalut tumpukkan beban. Dengan hati yang dipenuhi sayatan luka.
Entah berapa lama untuk bisa pulih seperti sedia kala. Rasanya tidak mungkin.

***

Secerah apapun mentari
Jikalau hati sedang merasakan duri
Tetaplah semua terasa seperti hujan
Yang membuat tubuh terasa kedinginan

Perjalanan ke masjid tempatku kajian lancar. Hingga tak terasa mobil hitam yang disupiri Pak Irwan sudah sampai. Aku memang selalu mengajak Pak Irwan jikalau aku pergi untuk mengisi jadwal kajian. Alasannya, bukan karena takut sendiri. Tetapi, terkadang jadwal yang padat membuatku kelelahan seharian. Hari ini ku putuskan memakai gamis putih, peci putih dan ridak warna hijau yang tentunya warna kesukaan Rasul. Sebagaimana lambang dari jadwalku kali ini untuk menyeru kepada ajakan Rasulullah.

Perlahan ku tarik nafas, karena sudah sering mengisi jadwal. Akhirnya gugup yang kerap kali menghantuiku kini hilang. Judul kajian kali ini adalah ” Orang Munafik “.

Ku langkahkan kaki ini menuju mimbar, menghadap jama’ah yang sudah memenuhi masjid.

Ucapan salam, sholawat serta isi dari materi lancar ku ucapkan. Dengan izin Sang Maha Rahman semua terasa mudah dan ringan. Semoga ilmu yang tadi dipaparkan dapat memasuki relung-relung hati seluruh jama’ah.

Saatnya shalat ashar, aku dan seluruh jama’ah laki laki memutuskan untuk shalat berjamaah. Bukan hal yang pertama kali aku menjadi seorang imam dalam shalat yang belum aku rasakan tentunya menjadi seorang imam dalam rumah tangga.

***

Sepulang dari mengisi jadwal, aku langsung bergegas menuju jadwal kedua di Bandung. Rasanya rindu ini kian membuatku terbang. Karena, sudah lama sekali aku tak menghirup aroma Bandung sejak beberapa tahun ke belakang.

“Pak Irwan, kita berapa lama lagi sampai di Bandung?” Tanyaku sambil sedikit menengok Pak Irwan yang sedang fokus menyupir di depan.

“Sebentar lagi Pak Ustadz, MasyaAllah sepertinya Ustadz udah gak sabar ya,” sahut Pak Irwan seraya sambil menyengir.

“Tentu sajalah pak, saya kangen berat nih.. hehe,” jawabku.

“Pastinya Pak Ustadz setelah tinggal lama di Malang, jadi agak lupa bagaimana kondisi Bandung,” tutur Pak Irwan.

“Betul sekali Pak Irwan, saya lupa bahkan sekarang sedikit linglung kenapa terus belum sampai padahal sudah dari sore kita berangkat dan sekarang sudah jam 9 malam kita belum juga sampai,” jawabku sambil memandangi lautan lampu di sepanjang jalan.

“Sebentar lagi di depan tinggal belok kanan, kita sampai Pak Ustadz,” ucap Pak Irwan.

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

Benar saja, kini aku dan Pak Irwan sudah sampai di depan rumah minimalis keluargaku dengan cat warna hijau. Pekarangan yang luas dan begitu banyak tanaman yang begitu terawat.

Segera ku turun dari mobil dan mulai memasuki rumah.

“Pak, mari kita masuk setelah ini kita langsung ke masjid komplek untuk isi kajian,” sahutku seraya melangkah masuk ke dalam rumah.

“Baik Pak Ustadz,” Jawab Pak Irwan.

Setelah membersihkan diri, aku langsung memakai gamis yang sudah disiapkan sebelum berangkat ke Bandung. Ya, gamis warna biru dengan ridak putih.

Setelah memakan waktu beberapa belas menit akhirnya aku sampai di masjid untuk mengisi kajian malam ini.
Disana kulihat, kak Bayu senior di pondok.

“Assalamualaikum,,” ucapku.

Bayu menoleh, “Wa’alaikumssalam Warohmatullah, MasyaAllah Muhammad, gimana kabar antum?” Tanya kak Bayu dengan senyumnya yang mengembang.

“Alhamdulillah kak, gimana kabar kak Bayu?” Tanyaku balik.

“Alhamdulillah mad, ente masyaAllah udah jadi ustadz ya,” sahut kak Bayu yang sedari tadi melihatku dengan tatapan aneh.

Aku membalasnya dengan senyuman.

“Gimana udah zuad?” Tanya kak Bayu polos.

Aku menelan salvina. Sedikit kaget dengan pertanyaan kak Bayu yang mendadak.

“Mmm.. masih mencari kak. Mohon do’anya,” jawabku singkat.

Kak Bayu mengangguk, “Kalau belum, ana mau ngenali antum sama adik ana,”

“Maaf kak Bayu, saya belum kepikiran kesana. InsyaAllah kedepannya saja,” potongku tiba-tiba.

Aku belum sanggup untuk menerima wanita baru dihidupku. Masih ada luka yang belum kering. Masih ada kenangan di ingatan yang masih hangat. Jelas, semua itu tak mudah untuk menghapusnya.

“Baiklah, aku bisa meminta nomber handphone-mu?” Tanya kak Bayu sambil tersenyum.

Aku mengangguk, segera ku sambar handphone kak Bayu dan menuliskan nomer.
Tak lama, ku berikan kembali pada kak Bayu dan meminta izin untuk segera naik ke atas mimbar. Karena jama’ah sudah mulai memenuhi masjid.

Kak Bayu mengangguk tanda setuju. Akhirnya ku langkahkan kakiku naik ke atas mimbar. Seperti biasa salam, sholawat dan isi daripada materi yang ku sampaikan sudah tergambar jelas. Itu semua memudahkan aku berbicara didepan jama’ah.

Namun, kali ini ada yang membuatku tak fokus. Seorang wanita bercadar yang begitu banyak di kerumuni anak kecil dan seumuran 15 tahun. Mereka bergantian salam kepada wanita itu. Apakah dia seorang ustadzah?

Pakaiannya membuatku sedikit terkagum-kagum. Sungguh, dia teramat rapih menggunakan cadar. Cadar yang ia gunakan seperti cadar di Arab dan Yaman begitu besar dan panjang.

Sampai akhirnya, aku harus kembali fokus kepada ilmu yang disampaikan. Berharap semoga apa yang ku sampaikan dapat berbekas di relung hati terdalam.

Baca selanjutnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here