Adegan yang Tersakiti

0
47
views

“Mau sampai kapan, kalian berdua akan bungkam? Berikan satu alasan saja, agar aku bisa mempertimbangkan perbuatan kalian!”

Sebenarnya sudah lama aku mendengar desas-desus perselingkuhan suamiku dan sekretarisnya. Namun, aku tak bisa berbuat apa-apa. Sebab aku tak memiliki bukti yang bisa memberatkan mereka.

Sampai akhirnya, sebuah pesan masuk ke ponsel suamiku.
[Yang, nanti ketemu di Kafe Capuchino, ya.] Tanpa harus membuka pesan itu, aku sudah bisa mengetahui isinya.
Kuputuskan untuk mengikuti kalian berdua.

“Dek, Abang keluar dulu ya. Pak Bos ngajak ketemuan.” Kau bohong.

“Iya, hati-hati di jalan. Kamu bawa kunci serep aja. Aku mau ke rumah Ibu, bantuin buat kue pesanan orang.”

“Oh, kamu mau ke tempat Ibu? Ya udah sekalian aku anter aja.”

“Gak usah, aku mau singgah ke supermarket dulu. Ibu nitip dibeliin bahan kue, ada yang kurang katanya.”

“Baiklah, kamu hati-hati juga, ya?” Kau kecup keningku. Namun, terasa hambar.
Berbahagialah kau bersama si Jalang itu.

**°**

Saat tiba di kafe, aku memilih untuk mengintai dari kejauhan.
Kau teramat mesra kepadanya, sehingga kau melupakan istri yang berada di rumah ibunya. Itu dalam pikiranmu.

Darahku mendidih, melihat adegan mesra kau dengannya.
Tak dipedulikan tangan yang berdarah ini, akibat mengenggam ranting-ranting pohon yang ada di sekitarku.

Kau tersenyum lebar saat si Jalang itu menyuapimu sepotong roti.
Nanti, akan kubuat kalian berdua makin tersenyum lebar.

**°**

Astaga! Kau membawanya ke rumah kita.
Dasar, laki-laki durjana!

Saat aku meninggalkan rumah tadi, semua lampu dalam keadaan menyala.
Namun, saat kedua binatang itu masuk ke rumah, satu persatu lampunya dipadamkan.

Dengan mengendap-endap, kuputar kenop pintu.
‘Ah, sial! Pintunya terkunci. Kalau kubuka, pasti akan menimbulkan suara.’

Aku tadi sengaja tidak mengunci pintu belakang. Segera saja ku menuju ke sana.
Kudengar desahan iblis wanita itu, hatiku benar-benar hancur. Kau nodai ranjang kita.
Kubisa melihat apa yang kalian lakukan dari celah pintu, yang entah sengaja kalian buka sedikit, agar aku dapat melihat langsung tanpa harus mengintip dari lubang pintu.

‘braak’ pintu terbuka lebar,
‘bug … bug … bug ….’ Berbekal tongkat baseball yang kuambil dari belakang, kubuat kalian tak berkutik.

Sayangnya, dada kalian masih naik turun. Itu pertanda kalian masih bernapas.
Bahkan, mulut kalian berdua seakan ingin mengatakan sesuatu.
‘aku tak butuh penjelasan apa pun, yang kulihat sudah cukup bagiku, untuk memutuskan apa yang akan kulalukan selanjutnya.’

‘kreeek … kreeek ….’
Ada noda darah di dinding kamarku.

“Tersenyumlah … Sudah kukatakan, aku akan membuat kalian berdua tersenyum lebar, sangat lebar. Gigi putih yang bercampur dengan cairan darah sudah terlihat bahkan sampai ke rahangmu.”

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here