A Play Destiny #27

0
108
views

Kali ini dan di masa depan, dapat kupastikan ada jurang gelap menunggu datangnya hati rapuh ini. Menunggu dengan kepastian yang semu.

Rasanya, dunia masih saja tak ingin merestui apa yang memang diperuntukkan untukku selalu saja menarik ulur dengan sangat angkuh seakan-akan dialah yang menang.

Layaknya Aila Permatasari yang selalu saja lemah disegala rasa maka mereka melakukannya dengan bangga bahwa menyakiti aku adalah kewajiban yang harus selalu ditegakkan.

Hadirnya ia sebagai penopang bukan berarti ia benar-benar menjadi penopang untukku. Sekali waktu ia menjadi penyerang tanpa memilah apa yang ia lakukan. Benar-benar memuakkan untukku, harus berada dititik permainan seperti ini.

Badai takkan pernah kalah telak tetapi jikalau aku tumbang lalu siapa lagi yang harus menjadi peliharaan mereka, siapa yang akan mereka sakiti dan tertawai, tangisku adalah bahagianya. Itu benarkan?

Dia, seseorang yang Allah peruntukkan untuk menjahit luka nyatanya tidak menjahit luka itu dengan sempurna. Ia bahkan membuatnya semakin menganga datang dengan sambutan luar biasa. Hati harus patah dulu sebelum akhirnya benar-benar utuh memilikinya.

Aku membenci mereka, sangat tidak menyangkal bahwa sumber luka itu berhasil mempersembahkan sesuatu yang membuatku buta akan masa depan. Rasanya memikirkan masa depan adalah hal mustahil yang sangat wajib kuhindari.

Lagi, semesta takkan pernah menyukainya maka dari itu ia memihakku memperbaiki dan menata takdir ini. Membuat hati mereka perlahan luluh dan akhirnya kutemui kata yang selalu kutunggu selama ini. KEADILAN…

Datangnya kata itu membuatku berani, benar-benar berani memimpikan bahwa masa depan masih bisa kuraih walaupun itu hanya 1% saja. Itu sudah lebih dari cukup. Benar-benar sudah sangat cukup.

Tetapi, rasanya aku ingin tertawa dan menangis meraung di dimensi yang sama. Ternyata jalan yang kutempuh tidak seluruh yang kukira lagi dan lagi Aku harus merelakan kepatahan di persimpangan jalan. DIA. katanya penopang adalah sumber patah kali ini.

Sangat mendewasakan diriku, dari segala rasa yang kutemui dari segala senja yang kulalui aku kini mengerti. Bahkan sangat menyadari bahwa inilah proses kebahagiaanku.

Kebahagiaan yang tak pernah kuimpikan karena aku cukup tau membayangkannya sama saja aku harus memeluk bulan dulu. Bukankah itu sangat mustahil? Ya aku tau maka dari itu raga ini tetap bertahan dalam gelap yang makin menjadi-jadi.

Tetapi kenyataan menyentakku, kini tertawa lepas benar-benar telah ada dalam kamusku. Aku bahagia atas semesta yang datang tepat waktu.

Terimakasih, kepercayaanku kepada Sang Pencipta membuatku menemukannya. Menemukan dia yang memang diperuntukkan menjadi milikku dan dialah menjadi sumber bahagia.

Kepada kalian sang pematah,aku cukup bersyukur atas hadirnya kalian. Tanpa dipatahkan hatiku takkan pernah tau betapa sulitnya menemukan sebuah kebahagiaan abadi tanpa ujung.

Kalian, adalah pematah sekaligus sumber dewasa untukku mengajarkan arti kehidupan sesungguhnya.

Untuk kalian yang sedang patah, jangan berhenti walaupun kepingan itu telah hancur sekalipun. Jangan menahan segala hal yang harusnya berlalu ada waktunya kamu akan berkilau sepertiku. Dan kumohon dengan sangat jangan terlalu lama menggenggam duri.

Aku, Aila Permatasari menegaskan kepada kalian yang sedang gamang diluar sana, tetap lanjutkan dan jangan khawatir atas luka baru. Jangan tumbang walaupun hati meronta ingin berhenti karena bisa saja didetik berikutnya kau menemukan bahagia.

Dan ku beritahukan bahwa saat ini hampaku telah menghilang tergantikan dengan indahnya kupu-kupu Indah. Bertemankan bunga Mawar yang cukup membahayakan aku akan tetap melanjutkan sebuah takdir sesuai yang Allah inginkan.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here