A Play Destiny #23

0
98
views

“Hai istri, lagi apa?”

“Astagfirullah… ” ucapku dan segera berbalik menemukan Kak Gilang tertawa sembari memegang perutnya. Benar-benar kurang kerjaan.

“Kakak apa-apaan sih! Masih untung Aila enggak punya penyakit jantung malah bisik-bisik gitu lagi! Jahat banget jadi suami.” gerutuku, memamg benarkan ia tiba-tiba datang dan berbisik tepat di belakang tubuhku.

“Memang benar ya kata orang, kita baru mengenal pribadi asli seseorang jika sudah menikah dan inilah buktinya seorang Aila cerewet juga ternyata!” sebagai respon aku hanya memutar bola mataku malas.

“Mending Kak Gilang nonton TV aja sana, ganggu aja! Saya mau masak… Usshh sana!” ucapku dan kembali melanjutkan memotong tomat untuk dijadikan bumbu tahu yang tadi pagi kubeli di tukang sayur yang lewat.

“Iya deh iya, masak yang enak ya. Jangan terlalu asin ataupun Hambar tapi tenang aja pasti bakal aku makan kok.” Kak Gilang berlalu setelah mengucapkan perkataan itu dan sebelumya telah mengacak jilbab yang kupakei.

“Dasar enggak jelas! Apaan Coba jilbab saya di berantakin segala, untung suami aku kalau Bukan…”

“Kalau bukan kenapa emamg?”

“Astagfirullah… Kak Gilang! Suka banget bikin orang kaget. Mau saya lempar ulekan cobek mau? Sini… Sini.. ”

Aku menodongkan ulekan yang sedang kupegang sambari mengancam akan melemparkannya, ia hanya tertawa dan benar-benar berjalan keluar dari dapur. Dasar jahil banget, kirain tadi dia benaran keluar ternyata masih dibelakang.

Jantungku berdebar kencang, kulepaskan ulekan itu dan meletakkan tanganku didada. Merasakan betapa cepatnya jantungku,

“Mengapa Cinta ini masih Setia untukmu kak? Sedangkan kemarin engkau telah memberiku luka yang benar-benar membuatku ingin menetap di kegelapan. Sebegitu butanya-kah Cinta ini hingga hati telah dilukai tetapi masih ingin menerima.” gumamku lirih

Lamunanku tersentak, dan segera melanjutkan memasakkan lauk untuk Kak Gilang di Ahad kali ini, setelah semalam membahas hal yang membuatku bersedih suamiku itu menyarankan agar aku segera tidur.

Setelah beberapa waktu berkutat dengan perlatan dapur, akhirnya masakan ala kadarnya ini jadi juga.

“Kak Gilang…” panggilku, tetapi tak ada sahutan sama sekali.

Melihat makanan telah tertata rapi dimeja, aku melangkah mencari Kak Gilang entah dimana.

“Kak gila…” lantaran ku terhenti saat melihat seseorang yang sedang berbicara dengan Kak Gilang.

Keduanya serentak menatapku, dan dapat kulihat perempuan itu juga menatapku nanar. Dia habis menangis?

“Assalamu’alaikum Kak Siska.” sapaku dan duduk didekat Kak Gilang

“Wa’alaikumussalam Aila,” jawabnya nyaris tanpa suara

“Ada perlu apa Kak, hingga membuang-buang waktu kemari?” pertanyaanku membuat Kak Gilang menatapku lekat. Entahlah

“Saya ingin meminta maaf Aila, atas kejadian kemarin hingga membuatku benar-benar tak berdaya. Tapi Kakak mohon tolong temui ayah. Saat ini ia sedang sakit keras dan terus menggumamkan namamu!”

Informasi itu membuatku menegang, dan dapat kurasakan Kak Gilang menggenggam tanganku erat untuk berusaha menguatkan perempuan rapuh sepertiku dan memberi peringatan padaku bahwa aku tidaklah sendiri.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here