A Play Destiny #22

0
103
views

“Aila…bagaimana keadaan lukamu? Apakah perbaikannya masih lama?” wajahku yang awalnya merenung kini menatap Kak Gilang dengan bingung

“Kakak habis mengcopy kata di google ya?” bukannya menjawab pertanyaannya lontaranku memberinya tanya kembali.

“Kamu tuh ya, negatif banget sama suami sendiri!” ucapnya dengan nada kesal.

“Diihh ngambek… ” Kak Gilang tak merespon ucapanku lagi, ia terlihat kembali fokus pada layar laptop didepannya.

Setalah melihat adegan Fando dan Tiara yang membuat kami tertawa lepas, pasangan suami-istri itu pamit pulang dengan kondisi yang masih terlihat malu bahkan wajah cantik Tiara masih terlihat memerah.

“Kerjaan suaminya Aila apa ya?” setelah terdiam selama beberapa menit aku mencoba membuka suara.

“Enggak tau… ” jawaban datar itu rasanya sangat lucu terdengar.

“Kak Gilang beneran ngambek?”

“Hmm.. “

“Hahahhahaa,” melihat wajah merajuk Kak Gilang membuatku tertawa lepas, tanpa beban seakan tdk ada luka menganga bersarang dalam hati.

Beberapa menit melepaskan tawa, tubuhku menegang saat mataku saling beradu dengan mata seseorang yang telah memberi luka beberapa hari lalu, ia yang telah mengajarkan arti dihargai serta disakiti.

“Kau sangat cantik, saat tertawa seperti itu! Tanpa luka serta kekecewaan,jika dengan mengusiliku membuatmu bahagia lakukan sesekali,” saat ini aku tak memakai cadar karena sedang bersantai di ruang tengah dan suamiku super sibuk itu sepertinya sedang mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan rahasianya.

Mataku mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna ucapan Kak Gilang “beneran cantik apa cuma gombal nih!” tak ada rasa puas melihat wajah kesal Kak Gilang. Ia benar-benar lucu saat terlihat kesal seperti sekarang ini.

“Lanjutkan aja terus… Lanjutin!”

“Hahahhahaa” lagi dan lagi tertawaan lepasku hadir kembali. Begitu bahagia, sifat lamaku yang menghilang kini hadir kembali.

“Aku baru tau, jikalau seorang Aila punya sikap usil juga!”

“Emang saya gini dari dulu kok,”seakan tak menerima ucapan laki-laki berkaos oblong hitam itu aku berujar cepat.

“Tapi aku serius Aila, apakah maaf untuk ayah belum hadir dalam dirimu?”

Pertanyaan itu membuatku mengingat kembali setiap perkataan pedih yang ia lontarkan, selayaknya film yang berputar.

Perempuan rendahan…
Apakah uang dariku belum cukup?….
Kau bukan putriku…

“Maaf Aila, bukan maksudku…”

“Tidak papa Kak Gilang, tapi kata maaf sangat sulit kusebutkan. Saya tak mungkin munafik mengatakan bahwa telah ikhlas atas semuanya padahal nyatanya belum bisa memaafkan,” jariku menghapus pelan airmata yang hadir,

Suara tawa yang hadir akan tergantikan dengan airmata kesedihan, suara jeritan hati seakan menamparku dengan perlahan.

Baru saja beberapa saat lalu tertawa lepas lalu sekarang harus menangis karena luka kesakitan?

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here