A Play Destiny #20

0
127
views

“Maafkan saya Aila, seharusnya… ”

“Kakak tau, semuanya terasa rumit untukku. Aku kira kebahagiaan benar-benar sudah memihakku kemarin tetapi ternyata hanya drama saja,” senyum getir ini tercipta sendiri sembari memandang lautan lepas.

Laki-laki disampingku terdiam, mungkin merenungi kesalahan yang ia ciptakan untuk menyakiti seseorang yang katanya ia cintai.

Kami belum beranjak dari sini, setelah beberapa waktu menangis meraung didalam pelukan kak Gilang ia menuntunku duduk langsung di hamparan pasir putih pinggir pantai.

“Dia sangat menyesal telah melukaimu sedemkian rupa, dapat kulihat dengan mataku sendiri ia terlihat menyedihkan bahkan perkataan Siska dan ibunya tak ia pedulikan lagi. Di fikirannya hanyalah mendaptkan maaf dari putrinya.” lontaran kata yang kak Gilang sebutkan membuatku termenung.

Hati terasa dilema saat ini, ingin mengatakan bahwa memaafkannya tetapi masih terasa menyesakkan. Perkataannya beberapa waktu sungguh membuatku jatuh.

Tubuhku menegang saat jemariku digenggam erat oleh lengan kokoh seseorang,siapa lagi jikalau bukan kak Gilang. Mata kami saling bertemu, dapat kusimpulkan dari matanya ia menyalurkan seribu semangat serta memberi tanda pada ragaku bahwa ia ada sebagai penopang disini.

Kuperlihatkan kesungguhan melalui mata kami yang saling beradu, agar perempuan bercadar ini mengerti betapa besar rasa yang kumiliki padanya.

Hatiku bagai diremukkan saat melihatnya beberapa waktu lalu sangatlah hancur, saat matanya menyorotkan kepedihan melihat aku dan Siska menjalankan drama murahan perempuan tak tau diri itu.

Aila, perempuan yang berhasil memikat hatiku beberapa tahun lalu hanya dengan pandangan pertama. Menatap wajah polosnya yang begitu cantik bagiku.

“Tak ada yang bisa kukatakan padamu humaira, tapi percayalah hatiku benar-benar terpikat padamu.” matanya menyipit dan dapat kupastikan ia tersenyum manis dibalik cadarnya.

“Kenapa aku tak bisa membencimu…” perkataan lemahnya membuatku semakin merasa bersalah karena telah mengikuti permainan Siska dan keluarganya.

Kulepaskan genggaman tangan kami, dan mengusap pelan kepalanya yang terbaluti jilbab panjang.”terima kasih atas kebesaran hatimu ingin menerimaku,” ia hanya mengangguk lemah dan menatap hamparan laut lagi.

“Kita pulang… ” perkataanku membuatnya mematung sesaat dan membuatku tak yakin ia akan setuju kembali bersamaku tetapi anggukan samarnya terasa sangat membahagiakan untukku.

Kami berdiri berjalan saling bersisian meninggalkan tempat yang menjadi saksi kebesaran hati Aila memafkan segala lukanya.

“Aila… ”

“Fando, Tiara… Apa yang kalian lakukan disini?” mataku membulat sempurna saat melihat sahabatku dan istrinya sedang berdiri didepan pintu rumah kami.

“Kak Aila, saya ingin meminta maaf.” Suara lembut itu menjawab pertanyaanku, Kak Gilang segera berjalan membuka pintu rumah.

“Ayo masuk dulu, kita bicara didalam,” setelah pintu terbuka lebar Kak Gilang mempersilahkan kedua pasangan halal itu masuk kedalam rumah.

Hatiku terasa menyesakkan saat ingin melangkah masuk tetapi sosok yang sering kusebut ayah kini berdiri mematung didepan rumah kami.

“Aila, ayo masu…. ”

Kurasa suamiku itu juga kaget saat ia juga menatap keberadaan mertuanya secara tiba-tiba.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here