A Play Destiny #19

0
144
views

Saling beradu,bermain dengan karang yang kian mengikis itulah yang dilakukan lautan saat ini. Yaa…raga ku sedang mematung menyaksikan kesabaran karang yang tetap di posisi itu sedangkan ia tau bahwasanya dirinya akan hancur tak tersisa.

Tanpa memperdulikan apapun, langkahku mengarah kedunia sepi ini. Terasa sangat menenangkan bukan kilasan luka yang terdengar tetapi hanya alunan ombak.

“Andai aku seperti dirimu karang, sangat kuat dan kokoh walaupun selalu terkikis dari waktu ke waktu tapi tetap di posisi yang sama. Tak menjauh sedikitpun dari ia sang pemberi luka.” Hanya itu yang bisa kuungkapkan dari sederet kisah luka yang kumiliki,semuanya tak pernah memihak padaku sama sekali.

Apa takdirku sedang tertukar dengan seseorang?

Jiwaku berteriak berhenti berfikir lagi, semuanya telah usai. Tugasku hanya menunggu luka apa lagi yang datang setelah ini.

“Aila…”

Ragaku tak perlu menoleh dan mata takkan saling beradu, cukup dengan suaranya semuanya sudah jelas ini hanya halusinasi fikiranku saja.

Mana mungkin kak Gilang berada disini?

“Apakah sepedih ini Aila, hingga menatapku saja kau tak ingin melakukannya,” mendengar ucapan lirih itu badanku berbalik cepat.

Tepat beberapa langkah dariku, berdiri sosok pemberi luka sempurnaku ditambah dengan jas pernikahan yang dirinya kenakan seakan menertawakanku bahwa aku kalah… Aku kalah sebelum berperang.

Kuputar badanku kembali menatap nanar lautan dan kembali berkelana dengan fikiran hancurku.

“Aila… Tolong dengarkan penjelasanku dulu,” tak kuhiraukan suara itu, kuanggap angin lalu.

Mereka telah melukaiku bukan? Jadi tembok tinggi harus kuhadirkan takkan ku robohkan lagi.

“Ayahmu… ”

“Jangan menyebut dia sebagai sosok ayahku, ayahku telah pergi semenjak bunda meninggalkanku. Yang kumiliki adalah diriku sendiri, tak perlu merasa sangat bersalah padaku. Anggap saja kau tak pernah mengenalku Kak,anggaplah…”

“Itu tidak mungkin kulakukan Aila, hatiku telah berada dalam genggamanmu. Aku tau ini keputusan berat dalam hidupku, apalagi melukai istriku sendiri. Ini semua hanya settingan Aila.”

“Apa maksudmu…”

“Aku enggak pernah nikah sama Siska, ini hanya palsu.” mataku membulat sempurna berbalik cepat dan menatap Kak Gilang dengan nanar.

Entah bagaimana caranya, kini aku telah berada dalam pelukan Kak Gilang, sosok penyemangat yang selalu kujadikan acuan untuk melangkah.

Berapa kalipun aku mengelak, aku tak bisa membencinya. Dia adalah penyempurna agamaku

“Kakak telah melukaiku… ”

“Ya, aku tau…”

“Kakak menambah lukaku… ”

“Ya,aku tau…”

“Kakak membuatku semakin jatuh, dan tak terkendali… ”

“Ya aku tau, maka dari itu maafkan kakak. Entahlah kakak hanya melangkah kemari dan benar, kau berada disini.ku mohon berhentilah menangis,” ia mengurai pelukan kami dan menghapus jejak air mata ku dari balik cadar yang kukenakan.

“Semuanya hanya rekayasa ayah, agar Siska bisa memiliki bukti bahwa ia telah menikah. Kemarin ia kembali dan mengadu pada ayah, katanya ia tak kuat lagi menanggung malu karena dikabarkan menikah tetapi malah diberitakan batal. Kemarin kami sengaja membuat momen itu dan 2 minggu dari sekarang kami akan bercerai. Maafkan kakak telah melukaimu sedalam ini.”

Tak ada yang bisa kuucapkan mendengarkan semua ini. Hanya menangis sambil bergumam bahwa ia telah melukaiku dan menghancurkan harapan besarku akan sebuah masa depan.

Ya, hatiku memang mudah akan ini. Ia begitu mudah luluh hanya sebuah ucapan seperti ini, tetapi ini hanya sekali saja.

Hanya Kak Gilang, untuk yang lainnya hatiku tak bisa menerima semuanya.

Hanya Untuk ia yang kucintai dan kupercayai. Karena beginilah aku, Sekali mempercayai maka selamanya akan seperti itu.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here