A Play Destiny #18

0
138
views

“Ayah… ” gumamku lirih, menatap nanar ayah dibawah derasnya hujan. Tetapi tidak dengan air mata yang ia hadirkan, terasa menyesakkan saat melihat dengan nyata Ayah menangis seperti ini.

Dialah yang pertama memegang jemariku saat langkah pertama kupelajari, ia selalu memberikan senyum terindah saat mereka melukai anak wanitanya.

Tapi itu hanya kenangan yang selalu menjadi bunga tidurku, dengan harap tinggi suatu hari nanti semua itu akan datang kembali.

“Tolong dengan sangat, jangan mendekat kearah perempuan rendah sepertiku. Aku bukan putrimu bukan? Kau selalu menatap benci padaku! Aku bukan putrimu lagi Pramono Baskoro!” tegasku saat melihatnya membawa langkahnya mendekat padaku,

“Kenapa? Tidak perlu menatapku dengan tatapan menyedihkanmu itu. Kau ingin marah padaku karena melupakan tata krama anak kepada ayahnya? Kau lebih menyakitiku! Kau menghina darah dagingmu sendiri! Kau yang merawatku sejak melihat dunia, melihat perkembanganku, tetapi dengan mudahnya melontarkan perkataan seperti itu?” napasku memburu menatap laki-laki itu dengan tatapan entah apa.

“Aa.aa..yah…” gagapnya, dapat kulihat dengan mataku ia sangat sulit mengucapkan kata itu

“Kau masih bisa menggunakan kata itu?” katakan aku perempuan tdk tau diri karena tak menghargainya, dengan penampilan seperti ini seharusnya kata ramah bisa terlontarkan, tetapi ini sangat memuakkan, ia dengan gampangnya datang lalu mengatakan ini pasti sebuah kekhilafan atau apapun itu.

“Aku tak pernah tau apa yang membuatmu menyebutku perempuan rendah, tak sekalipun hal bisa kumengerti saat semua kata pedih menyesekkan terlontar dari mulut seseorang yang satu-satunya kumiliki saat ini.” Ini benar bukan! Ia adalah penopangku tetapi ternyata itu hanya imajinasiku lagi…?

“Apa yang ada di fikiranmu sebenarnya, kau mempertaruhkan masa depanku. Perkataanmu masih tergiang jelas dalam fikiranku, ku mohon biarkan aku pergi dengan luka menganga ini. Tak perlu memikirkan perempuan rendah sepertiku, aku cuman pengganti bukan?”

Mataku menatap wajah laki-laki itu, ia seolah rapuh tak berdaya tak mengucap apapun itu. Dibalik cadarku bibirku membentuk lengkungan senyum yang seakan sulit untuk tercipta “aku pamit, biarkan perempuan rendah ini meratapi kesendiriannya setelah kepergian bundanya. Biarkan ia memahami bahwasanya kehidupan Indah takkan pernah hadir dalam takdirnya.” Langkahku menjauh, ini akan selalu menjadi takdirku. Melangkah menjauh dari mereka yang tak menginginkan kehidupan seorang Aila.

Mataku menatap pintu rumah didepanku saat ini,seharusnya aku tak kembali kesini dan merepotkan seseorang lagi tetapi semua membuatku tak berdaya serta sangat membutuhkan penopang agar tetap hidup.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh… ” ujarku lemah.

Setelah beberapa menit berlalu, tidak ada jawaban atau respon apapun. Padahal aku sangat tau salah satu dari mereka pasti ada didalam.

“Apa suaraku kurang keras?” tanyaku pada diri sendiri.

“Mas… Saya enggak tau apa tujuan Kak Aila kesana, ia hanya mengatakan jikalau ia belum kembali dalam waktu satu jam maka saya harus menghubungi Mas.” Suara lembut berbaur ketakutan itu terdengar olehku.

“Kenapa selambat ini Tiara? Ini sudah 3 jam lebih!” kali ini yang menyahut adalah suara laki-laki yang telah menjadi sahabatku sadari dulu.

Tanganku meraih knop pintu dan otomatis kedua pasangan halal itu menatapku “jangan menyalahkan istrimu Fando, ia telah menemaniku dengan sangat baik.”

“Saya akan pergi dari sini, kehadiranku hanya merusak pernikahan Indah kalian. Semoga selalu berada dalam lindungan allah.” setelah mengucapkan hal yang tdk sesuai dengan keinginan hatiku sendiri, langkahku menjauh.

Yaa, lagi lagi menjauh dari semua orang adalah takdirku…

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here