A Play Destiny #17

0
314
views

“Maaf, anda siapa?” dari balik cadarku sekilas, perempuan ini mirip dengan bunda. Tapi apakah dia keluarga bunda?

“Kau tak mengenalku?” bukannya jawaban yang kudapatkan perempuan berjilbab silver berpaduan hitam ini memberi pertanyaan padaku

“Kau Aila kan? Anak Arini dan Pramono Baskoro?”

“Iya… Kau mengenal orang tuaku?”

“Perkenalkan aku Arinda atau bisa dikatakan saudara kembar bundamu…”

Mataku membulat sempurna saat perkataan itu terlontar, bunda mempunyai saudara kembar?

“Bundamu adalah orang berhati lembut dan baik hati, ia takkan menyimpan dendam pada siapapun walaupun itu pada suaminya sendiri.ia rela memberontak dan menentang keluarga demi menikah dengan dengan ayahmu, menghilang tanpa jejak tanpa mengucapkan apapun itu.”

Ingatanku kembali saat bunda masih berada di penghias hariku, seseorang yang selalu menjadi malaikat sempurna sekaligus sahabat keluh kesahku. Ya ku akui sesuai perkataan perempuan disampingku ini, bunda memang mempunyai sifat sangat penyayang bahkan mungkin membunuh nyamukpun ia tak tega.

“Jikalau memang anda memamg saudara kembar bunda, lalu bagaimana bisa menemukanku bukankah anda mengatakan bunda menghilang?”

“Butuh waktu lama menemukan kak Arini, tetapi bukan raga yang kita temui tetapi hanya makamnya serta sebuah kejutan bahwa Promono telah menikah lagi dengan seseorang yang membuat ia buta tentang fakta anaknya sendiri”

“Saya belum sepenuhnya percaya apapun Mba. Jikalau apa yang anda katakan adalah sebuah kebenaran. Tolong beri saya bukti yang benar-benar nyata bukan kebohongan untuk mempermainkan hidupku lagi” kuberi tekanan saat kata akhir yang ku lontarkan, agar ia paham aku sudah lelah mengenal sakit yang baru

Saat ini, kepercayan benar-benar tak kuhadirkan. Menguburnya dalam-dalam agar tak menjadi bumerang untukku di masa mendatang lagi.

“Saya permisi Mba, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” aku membawa langkahku berjalan menjauh, menghindari mereka yang akan melukai lagi.

“Maafkan kami Aila, karena datang disaat kau tak bisa diperbaiki lagi. Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh” kata lirih itu masih bisa kudengar samar saat langkahku kian menjauh.

“Kenapa dunia tercipta sama sekali tidak diperuntukkan padaku ya allah?, hingga putus asa harus bertemu di suasana seperti ini” gumamku, memejamkan Mata,menikmati hujan yang datang.

Yaa aku cukup tau..
Hujan hanya jatuh tanpa tau sakit apapun..
Ia hanya datang…
Membahagiakan mereka yang menikmati..
Dan menenangkan mereka yang frustasi..
Jangan mencari pelangi saat semuanya gelap
Jangan mencari cahaya saat awan pekat
Karena yang kau temui hanya luka
Yang takkan pernah bertepi
Selayaknya ombak laut yang saling bertubrukan…

Mataku terbuka, melihat rintik hujan saling berlomba-lomba menyentuh tanah padahal sebagian dari rintik mereka hanya mengenai yang lain bukan tanah yang menjadi tujuan awalnya.

Badanku memutar dan firasatku benar, di kejauhan sana seorang lelaki sedang menatapku sendu. Seakan merasakan kepedihan yang sedang ingin ku luapkan dalam derasnya hujan.

Mataku beradu dengan mata itu, ia ingin melangkah tetapi kuberikan ia tatapan semenyedihkan mungkin agar ia berhenti melangkah.

Dan benar, ia membatu dan jantungku berdetak kencang saat kurasakan dengan nyata ia menangis sepertiku dibawah derasnya hujan.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here