A Play Destiny #16

0
179
views

“Aila… “Perkataan Kak Gilang membuat tamu undangan yang tidak seberapa itu memusatkan perhatian mereka padaku, menatap perempuan bercadar yang sangat terlihat menyedihkan saat ini.

“Akhirnya kamu datang juga.” Suara itulah yang mengundangku kemari, dengan alasan ada sesuatu yang penting dan nyatanya kejutan inilah ingin ia perlihatkan

“Apa maksud ayah memanggil Aila kemari, ini semua maksudnya apa? Aku dan Kak Gilang belum resmi bercerai dan bahkan pernikahan kami baru jalan seminggu ini!” ucapku dengan emosi yang memuncak.

“Saya tdk bermaksud apapun, yang ingin dijodohkan dengan Gilang adalah Siska. Kau hanyalah pengganti kemarin.” Tak ada yang bisa kuucapkan saat ini perkataan ayah semakin membuatku jatuh.

Mataku saling beradu dengan mata lelaki yang katanya selalu ada disetiap tangis yang kupunya

“Kak… ” lirihku, nyaris tak terdengar. Tapi aku yakin ia mendengar. Seseorang yang masih berstatus suamiku itu terlihat frustasi dan mimik menyesal sangat bisa ku simpulan saat ini.

“Kau tak perlu merasa hancur seperti ini Aila, perempuan rendah sepertimu tak ada yang bisa diharapkan…kau telah menjual dirimu! Dan apa ini? Walaupun kau mengubah penampilanmu sekalipun semua tetap sama…kau telah bersama banyak lelaki!”

Apakah dia ayahku…?
Kenapa sesak sekali dan semudah itu ia melontarkan perkataan yang sungguh membuatku tak ingin melihat wajahnya lagi

“Ayah… ” Itu bukan suaraku tapi suara suami semingguku itu. Mataku menoleh padanya ia terlihat sangat marah rahangnya mengeras.
“Ayah enggak tau apapun tentang aku!” lirihku

“Aku tau kau… ”

“Yang ayah tau semuanya fitnah, aku masih suci selayaknya perempuan lainnya!”

“Itu semua hanyalah… ”

“Hanya apa ayah, ayah enggak tau apa yang terjadi denganku selama beberapa tahun ini! Setiap aku mau ngomong ayah selalu menuduhku perempuan tidak-tidak.”

“Kau selalu keluar lalu… ”

“Tentu ayah! aku selalu keluar, jika aku tak kerja! makan dalam sehari dapat darimana? Aku bekerja di cafe beberapa meter dari rumah. Apa itu kesalahan?”

“Ayah selalu memberimu uang setiap bulan, untuk apa kau bekerja?”

“Loh! Bapak enggak tau ya! Aila kan memang kerja di ujung lorong sana sebagai pelayan kafe,” suara tetangga kami menghentikan perdebatanku dengan ayah.

Ayah terlihat terkejut dengan perkataan tetangga kami, mulutnya tak mengeluarkan perkataan apapun lagi.

“Aku pamit ayah, Dan tidak Kak Gilang jangan bergerak mendekatiku. Aku menungggu surat perceraian kita.” Selepas mengucapkan smeua itu langkahku pergi, meninggalkan sejuta luka yang membuatku takkan kembali dalam kisah yang sama serta orang yang sama.

Benda pipih itu sadari tadi berdering, tak ada niat sedikitpun dalam hati ingin menjawab apapun sekarang.

Ini salahku…!

Seharusnya tembok itu tetap kubangun setinggi yang aku bisa agar tidak sesakit sekarang.

“Apakah luka harus terus menganga sepanjang waktu dan semua itu berasal dari mereka yang dalam khayalku akan memberi sejuta tawa?”

“Tak seharusnya jatuh ditambah jatuh Aila, jatuh lawan dari bangkit dalam sebuah kata berarti kau harus melawan semua lukamu agar bisa bangkit dari semua ini.”

Wajahku yang sadari tadi tertunduk kini menatap perempuan cantik didepanku. Dengan balutan jilbab coklatnya menatapku teduh memberikan pancaran seakan semuanya akan baik-baik saja.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here