A Play Destiny #15

0
94
views

Senja itu pergi tepat setelah membuat semua menusia takjub padanya,pergi diiringi kekecewaan dari mereka yang sangat menyukai hadirnya. Berlalu tanpa niat pamit dan esoknya datang lagi dengan makna entah apa artinya.

Bolehkah kuucapkan bahwasanya posisiku sedang berperang dengan rasaku sendiri, selayaknya senja yang tak peduli sosok Kak Gilang sedang melekat disana.

Sudah beberapa hari ini ragaku memilih terdiam dengan segala tanya, laki-laki yang kukenal akan menyembuhkan luka ternyata hanya semakin menjatuhkan ke pelosok jurang gelap,sunyi dan hancur.

“Aila, apa kau tak lelah seperti ini. Jangan buang duniamu hanya untuk orang yang berlalu pergi. Kemana Aila sahabatku?”suara Fando memecahkan keheningan yang kuciptakan sendiri.

Jangan mengira kami hanya berdua, Fando yang katanya sahabat terbaikku telah memiliki tambatan hati dalam ikatan halal dan ia menikah tanpa memberitahu ataupun mengirim undangan padaku sama sekali.

“Mas berangkat kerja saja, biar Kak Aila aku yang ajak bicara”mendengar tak ada sahutan dariku perempuan berwajah cantik itu berusaha mengendalikan suasana.

Jujur, aku cukup takjub padanya ia begitu cantik sederhana dengan balutan gamis syar’i serta jilbab panjangnya dengan lesung pipit Indah menghiasi wajah naturalnya.

“Yaudah, aku berangkat kerja dulu kamu jaga diri dirumah jangan kemana-mana dan aku titip Aila. Ingat dia sahabatku yang sudah bersuami kau tak perlu cemburu”

Mendengar interaksi mereka rasanya membuat sudut hatiku nyeri, bagaimana bisa aku mengkhayalkan suasana seperti mereka sedangkan pernikahanku saja sudah berada diambang perceraian.

Sadari kemarin, aku lebih memilih terdiam dikamar tamu ini hanya keluar jika waktu makan tiba.

“Assalamu’alaikum kak Aila, boleh saya masuk!”suara lembut Tiara membuyarkan lamunanku tentang pernikahanku yang hanya berumur 48 jam saja.

“Wa’alaikumussalam, masuk saja Tiara tak perlu merasa sungkan inikan rumahmu sendiri.”suaraku terdengar sangat lemah saat menjawab perkataan Tiara. Dan aku sangat yakin tubuhku pasti terlihat menyedihkan sekarang.

“Kak Aila, maaf jika saya berani mengucapkan hal seperti ini tetapi sungguh!, allah sangat membenci hambanya yang lemah seperti ini dan… “Dering teleponku memotong perkataan Tiara.

“Assalamu’alaikum, iya… Sekarang… Dimana.. Untuk apa.. Kenapa harus saya… Yaudah saya kesana… Baiklah… Wa’alaikumussalam.”setelah menekan tombol merah pada benda pipih itu mataku menatap lurus perempuan cantik nan anggun didepanku. Tak salah jika laki-laki seperti Fando memilihnya, dia sungguh sempurna dimataku apalagi dimata sahabatku itu.

“Kakak mau kemana?”ucapan itu menghentikan aktivitasku membereskan tasku. Mengecek apakah semua benda yang kebutuhan masih ada ataukah tertinggal.

“Saya mau kerumah ayah saya Tiara, tak perlu khawatir jika dalam satu jam saya tak kembali kau bisa menelpon Fando untuk melihat keadaanku”setelah mengucapkan semua itu kakiku melangkah pergi menghiraukan firasat buruk dalam hatiku. Berusaha menepis semuanya.

“Saya terima nikah dan kawinnya Siska Aurelia binti pramono baskoro dengan mas kawin tersebut dibayar tunai”

“Bagaimana para saksi SAH!”

“SAH!”

lututku lemas, dan dapat kupastikan cadarku basah oleh air mata jikalaupun untuk melihat ini lalu untuk apa ayah menelponku.

Disana, kak Gilang menikah lagi dengan Kakak tiriku. Jikalaupun pernikahan mereka tetap dilanjutkan lalu untuk apa hadirku sebagai pengganti pengantinnya kemarin.

Semenyedihkan itukah kehidupanku?

Kenapa harus aku disini…

“Aila…”

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here