A Play Destiny #13

0
135
views

Rintikan ini telah hadir sejak beberapa waktu lalu, dan aku hanya terdiam tanpa berniat meninggalkan tempatku sama sekali. Hatiku bagai dipermainkan oleh takdir baru saja beberapa waktu lalu aku merasakan arti kebahagiaan dan dalam beberapa jam kemudian semuanya lenyap terbawa waktu.

Rasanya aku ingin menghilang saat ini, menjauh dari semuanya dan datang dengan pribadi yang tegas tak lemah seperti saat ini.

Kak Gilang?

Baru saja diperjalanan tadi kami menuju sebuah tempat wisata ayah tiba-tiba menelpon laki-laki berkemeja putih itu datang kerumah tanpa membawaku sama sekali,

“Aila, kakak disuruh ayah datang kerumah tapi tanpa membawamu. Maafkan saya Aila kau harus turun disini”

Tak ada yang bisa kuucapkan, tak ada yang kusembunyikan wajahku pasti sangat menyedihkan dihadapan kak Gilang tadi dan sebelum tanganku menutup pintu mobil dapat kulihat ia mengacak rambutnya frustasi.

Sudah lebih 3 jam ragaku hanya terdiam, merenungkan sebuah kisah yang lagi tak berpihak padaku. Benar-benar membuatku tak ingin melihat siapapun lagi saat ini rasanya mataku tak ingin mengenal dunia kejam ini.

Apalagi yang ayah inginkan, apakah tak cukup untuk semuanya. Firasatku tidak baik sekarang, selayaknya menunggu waktu hingga aku benar-benar tak bisa diperbaiki lagi.

“Senja, ajarkan padaku arti memaknai semuanya. Bantu aku menyikapi luka yang kian menyakiti, baru saja beberapa waktu lalu rasanya diriku kembali keduniaku kembali tetapi jiwaku menghilang lagi”

Dibalik cadarku, mulutku bergetar entah kata apalagi yang harus ia lontarkan. Rasanya kata-kata menyedihkan benar-benar di ciptakan untukku.

“Permisi mbak, tdk ingin ke mesjid shalat?”pertanyaan itu membuatku mengangkat wajahku yang sadari tadi tertunduk lesu. Dari balik cadarku dapat kulihat laki-laki ini menjulang tinggi bahkan melangkahi tinggi Kak Gilang, rambutnya rapi dan memakai celana bahan kantor serta baju biasa.

Astagfirullah, apa yang sedang kulakukan? Apa aku baru saja membandingkan seseorang dengan suamiku sendiri?, tapi tunggu sepertinya aku mengenalnya?. Batinku

“Fando?”ucapku ragu tanpa menjawab pertanyaannya sebelumnya

“Kau mengenalku? Apa kita pernah ketemu sebelumnya? Ohh iya, kau tak shalat ashar?”

“Aku sedang absen shalat, biasa perempuan. Aku Aila”jawabku, dan tepat dugaanku ia pasti terkejut setelah tau siapa aku.

“Aila, astaga kau apa kabar?”ucapnya dengan semangat yang tinggi.

Fando, sahabat terbaikku sewaktu SMA dulu, kami putus kontak sejak lulus. Padahal kami sangat dekat bahkan semua penghuni kelas mengira kami berpacaran.

“Alhamdulillah aku baik Fando”jawabku seadanya.

“Kau ada masalah?”tanyanya dan aku cukup terkejut, dan beberapa detik kemudian aku tersadar dia adalah sahabatku bukan tentu saja ia mengenal gestur tubuhku yang terlalu menyedihkan saat ini.

“Sebenarnya aku tau kau sudah menikah Aila, tetapi setelah kuselidiki ternyata itu pernikahan dadakan dan kau adalah pengantin pengganti. Kau tak lupa cita-citaku kan Aila serta keahlianku dibidang stalker”ucapnya panjang lebar.

Posisi kami saat ini sedang duduk di kursi taman, memang tadi aku tak langusng pulang tetapi langkahku menuju kemari untuk menenangkan diri.

“Seharusnya kau tak lupa statusmu Aila, bukan malah keluyuran ditaman dengan lelaki yang bukan mahrammu ditaman seperti ini… ”

Perkataan itu membuatku membisu, mematung di tempat seketika. Itu bukan suara lelaki yang berjarak 5 kepalan tangan dariku tetapi dari lelaki di berjarak 2 meter dari tempat kami.

Dia suamiku, kak Gilang….

Dan dapat kurasakan hawa tak baik saat ini. Antara Fando dengan laki-laki berstatus suamiku sehari yang lalu…

Dan hujan yang telah berenti tadi kini datang kembali seakan menandakan akan ada sebuah masalah besar yang datang…

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here