A Play Destiny #11

0
79
views

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi akan tetapi mataku belum ingin menjemput mimpi sama sekali,hatiku terasa risau akan sesuatu.

Perlahan, aku bangun membawa langkahku keluar kamar meninggalkan Gilang yang telah lebih dulu terlelap tenang. Menuai seribu mimpi dalam tidurnya, seakan itulah mimpi terindah nya.

Mataku seakan tak ingin berkedip menatap rembulan redup yang terkelilingi berjuta Bintang yang bervariasi, mereka seakan menjadi penopang untuk rembulan agar tetap bercahaya walaupun mereka tau rembulan takkan pernah sama dengan matahari yang perkasa.

Perlahan, entah apa yang hinggap di fikiranku kini ragaku telah berada di taman belakang, menikmati sunyi yang menemaniku sejak bunda pergi untuk selamanya.

“Bunda, bagaimana kabarmu? Lihatlah putrimu telah berada di titik ini, harus tetap bangkit disegala rasa, aku merindukan sosokmu disini memelukku, membisikkan seribu kata-kata lembut sebagai penenang hatiku”racauku tanpa mengalihkan pandanganku dari rembulan. Seakan rembulan itu adalah sosok malaikat yang telah lama pergi meninggalkanku.

“Aila… “Aku memamtung, hatiku mengenal suara itu. Suara seseorang yang kini telah menjadi imamku.

“Kenapa disini?”tanyanya dan duduk disampingku.

“Kenapa kak Gilang bangun, seharusnya kakak tetep tidur didalam, aku hanya butuh kesunyian saja.”tanpa menjawab pertanyaannya, mulutku hanya mengeluarkan kata seperti itu.

Lama terdiam, helaan napas kak Gilang kudengar, seakan pasrah akan sesuatu. Bingung dan risau terpadu menjadi satu.

“Kakak benar-benar enggak tau apa yang terjadi padamu beberapa tahun lalu sebelum kakak datang, tetapi tidak dengan selalu menyiksa dirimu seperti ini.”ucapnya lirih. Mataku menoleh dan laki-laki ini hanya menunduk pasrah.

“Jangan menganggap duniamu saat ini adalah duniamu yang dulu, jika kau terus seperti ini kapan kebangkitan menghampirimu “ucapnya lagi tanpa menoleh sama sekali padaku.

“Tidak ada yang bisa ku perbaiki dalam hidupku kak,semuanya sudah tdk bisa utuh lagi. Biarpun beribu cara kau mengucapkan kata motivasi, aku akan tetap seperti ini”jawabku dengan memandang kosong rumput taman disini.

Itu benar bukan!. Aku sudah menyerah sadari dulu.

“Kakak tidak perlu risau akan sesuatu, aku akan tetap menjalankan selayaknya bagaimana pernikahan antar perempuan dan laki-laki. Rumah tangga kita akan berjalan sesuai arah,mungkin jika waktunya tiba jika allah mengizinkan hatiku bisa kau miliki tetapi tidak dengan jiwaku lagipula mulai besok pagi aku telah memutuskan untuk memakai cadar. Apa kakak setuju? “Pertanyaan terakhirku membuat kak Gilang memusatkan perhatiannya kepadaku. Entah apa yang ada di fikirannya itu.

“Kakak setuju kan?”ulangku setelah beberapa menit berlalu tetapi laki-laki berstatus suamiku ini hanya terdiam memandangiku

Mataku membulat sempurna saat kak Gilang memelukku cukup erat. Seakan keputusanku untuk memakai cadar adalah sebuah kebahagiaan sempurna untuknya

“Saya sangat setuju Aila, ini sebuah berita kebahagiaan yang membuat saya bersyukur karena menikahimu, terimakasih. Kita akan sama-sama saling menyempurnakan agama dijalan allah”ucapnya dengan sangat bahagia.

Sungguh.

Melihat Gilang sebahagia ini membuat hatiku menghangat. Jantungku berdetak kencang seakan berirama dengan jantung seseorang yang kini memelukku erat.

Apakah Gilang telah mencintaku secepat ini?

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaDiablo 4 Tidak Memiliki Mode Offline
Berita berikutnyaDestinasi Pulau Umang
Menulis itu sebuah pengembangan dalam diri, dengan jalur ini mungkin sebagian keresahan hati. Maka dari itu saya menyukai dunia literasi dapat mengungkap berbagai genre cerita dan memotivasi para pembaca di waktu yang sama.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here