A Play Destiny #07

0
83
views

Setelah meninggalkan Gilang sendirian, aku hanya berbaring dengan kerisauan yang entah apa artinya sadari tadi otakku selalu berputar ke waktu 7 tahun yang lalu.

Pelangi…?

Sosok yang mengajarkanku arti sebuah ketegaran yang sebenarnya, mengajakku tetap berdiri sedangkan dunia mendorongku terpental cukup jauh.

Aku tak tau nama aslinya adalah Gilang, laki-laki yang berumur 1 tahun diatasku itu mengatakan bahwa namanya adalah pelangi. Seperti layaknya setelah hujan adanya pelangi mewarnai dunia maka dirinya datang mewarnai kehidupanku setelah semuanya memberi hitam.

“Kenapa harus kamu Gilang?”tanyaku dalam hati,ketakutan berpacu bersama desakan ayah. Pernikahan ini tetap terlaksana dan yang menjadi pengantin perempuannya adalah aku.

Mataku terpejam meresapi makna sang waktu, seharusnya ini tak berlanjut. Ada sebuah tembok tinggi antara aku dan Gilang, firasatku mengatakan akan ada luka yang lebih besar lagi dari ini semua.

“Ayah tak mendengar alasan apapun Aila, jika dirimu masih menganggap ayah adalah ayahmu maka turuti semua ini, seharusnya kau bersyukur Gilang ingin menerima perempuan sepertimu.”

Perkataan ayah terngiang-ngiang dalam lamunanku, setelah menepis tangan Gilang aku bertemu ayah di ruang tamu dan perkataan itu meluncur begitu saja dari mulutnya dari mataku dapat ku lihat ibu Miranda tersenyum kemenangan didekat ayah.

“Bunda, Aila butuh bunda disini menemani Aila menapaki setiap duri dari berjalannya waktu. Bunda sedang apa sekarang?. Datang ke mimpi Aila yaa bunda, berikan Aila kekuatan untuk menyambut luka baru lagi”perkataanku hanya dijawab oleh desiran angin yang datang. Setelah lama berbaring, kini mataku sedang menatap rembulan.

Saat ini aku berdiri didekat jendela. Menatap keheningan malam berteman sunyi yang abadi.

“Aila….”

Aku menoleh dan menemukan ayah berdiri diambang pintu kamarku, dari pandanganku ayah terlihat kaget melihat isi kamarku kosong.

“Kenapa ayah, kalau ingin berbicara dengan Aila cukup menyuruh bibi untuk memanggilku kehadapan ayah”ucapku sambil berjalan kearahnya sambil tertunduk.

“Apa kau sangat kekurangan uang sehingga semua barang dikamarmu kau jual”tinggal 4 langkah lagi menuju kesisi laki-laki berkemeja biru itu tetapi perkataannya membuatku tertohok. Pandanganku menatapnya dengan sorot terluka

“Apa uang yang setiap bulan ayah beri padamu tdk cukup Aila, sehingga kau menjual Barang-barang dikamarmu dan juga tubuhmu”

Apa yang harus kulakukan jika ayah menghina putrinya sehina itu.

“Uang bulanan… “Ucapku ambigu.

“Ya uang bulanan, ayah selalu memberi uang bulanan untukmu melalui Miranda”ucap ayah seakan menjawab pertanyaanku

“Apa maksud ayah, sejak kejadian ayah menuduhku entah apa sebabnya sejak saat itu semua kehidupan Aila berubah. Ibu Miranda mengambil Barang yang ada kamarku, sedangkan uang tak pernah aku terima sampai saat ini. Dan menjual tubuh?. Ayah adalah ayahku, tanya dalam hati ayah Apakah Aila perempuan seperti itu?”ucapku. Tapi itu tertahan. Itu hanya teriakku dalam hati.

Sedangkan nyatanya ayah telah meninggalkan kamarku beberapa menit yang lalu. Meninggalkanku dalam lamunan dan tanpa kusadari air mata yang paling kubenci kini telah hadir.

Tadaaaaa…
Ada yang nungguin????
Ada yang kangen aila yang lemah ini.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here