A Play Destiny #06

0
81
views

Ini sudah berjalan menuju menit ke 30 akan tetapi lakilaki yang berjarak beberapa langkah dariku tetap diam, bahkan bungkam padahal dialah yang mengajakku kemari.

“Sebenarnya kamu mau bicara apa Gilang, saya juga perlu istirahat untuk kerja besok.”setelah beberapa lama diam, hatiku gusar dan memilih mengeluarkan suara.

“Sebenarnya apa pekerjaanmu?”pertanyaan Gilang seakan ambigu terdengar olehku. Ia seakan bertanya pada dirinya sendiri.

“Saya tidak tau apakah kau akan percaya atau tidak. Tetapi saya hanya mengucapkannya sekali. Saya bekerja sebagai pelayan di kafe “bigfood”.”ucapku tegas, hatiku benar-benar pasrah jika laki-laki yang ayah ingin pilih menjadi imamku ini tdk percaya sama sekali.

“Aku tau, dan aku sudah menduga akan ini. Awalnya aku tak percaya jikalau kau bekerja di club malam, dan tertanya fikiranku tidak salah”tepat setelah Gilang mengucapkan serentenan kata itu, kepalaku yang sadari tadi menunduk kini menatap Gilang mencari kebohongan akan tetapi tak ada kebohongan yang kudapatkan. Laki-laki ini benar-benar percaya padaku

“Kau percaya?”tanyaku sambil terus menatapnya sedangkan laki-laki yang berpakaian casual ini tetap menatap kedepan jadi otomatis hanya dari samping mataku menatapnya

“Tentu, ayahmu hanya dibutakan oleh bukti yang ada saat menatapmu pertama kali dan mendengar perkataan ayahmu padamu. Entahlah aku tidak yakin bahkan tak percaya atas tuduhan yang ada”

“Jadi, kumohon dan kuharap kau menerima pernikahan ini Aila, awalnya hatiku memang tertarik padamu dan kukira aku akan dijodohkan denganmu tetapi ternyata pada Siska. Allah lebih tau sesuatu. Dan sekarang apa kau tdk ingin menerima hal ini”

Ucapan panjang lebar Gilang membuatku bimbang, entah apa yang terjadi. Jadi apakah kesimpulan laki-laki ini ia mencintaiku dan memilihku

“Aku takut akan luka lagi Gilang, tunggulah Kak Siska sampai ia kembali aku tak bisa”setelah mengucap hal itu kakiku melangkah pergi akan tetapi baru beberapa langkah tanganku ditahan oleh Gilang

“Aila, Coba bawa ulang memorimu kemasa lalu, apakah kau mengingat seseorang yang selalu kau panggil pelangi”

“Pelangi”gumamku, mataku terpejam mengulang ke masa lalu,pelangi?. Sosok itu adalah kakak seniorku pas smp. Kami hanya berteman beberapa minggu hingga ia lulus.

Tapi bagaimana bisa?

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here