A Play Destiny #03

0
115
views

Mataku hanya memancarkan kekosongan saat ini,perkataan ayah masih terekam jelas dalam ingatanku. Saat ini ragaku sedang duduk termenung didekat jendela kafe tempatku bekerja hatiku cukup bersyukur karena Aisyah, pemilik kafe ini memaklumi setiap sikapku.

Wajahku menoleh kesamping saat mendengar decitan kursi dan tertanya Aidan dan Aisyah sedang duduk menatapku dengan tatapan tidak kusukai. Kasihan…!!

“Aku sangat tau, Aidan pasti sudah menceritakan kepadamu tentang perkataan ayahku beberpa waktu lalu.”Ucapku sarkas. Entahlah hatiku tidak suka ditatap dengan pandangan seakan aku paling lemah didunia

“Tinggallah bersamaku.”mataku terpejam mendengar suara Aisyah yang memintaku untuk menetap di atap yang sama, suara sahabatku itu bergetar aku tau sangat tau. Siapa yang tidak terluka jika di lukai oleh ayah kita sendiri?

“Tidak Aisyah, rumah itu sudah sangat melekat dalam jiwaku”ucapku tegas tanpa menatapnya sama sekali

“Aila,berhentilah bersikap seperti ini hatiku tidak sanggup membayangkan semuanya”mataku dapat menangkap wajah sembab Asiyah yang ditenangkan oleh Aidan, yaa Aidan adalah suaminya tentu saja mereka telah halal

“Ini takdirku Aisyah, jangan pernah membayangkan berada di pihakku karena menjadi aku adalah nereka dunia untukmu.”Tangis Asiyah menjadi-jadi saat mendengar perkataan terakhirku. Itu memang nyata

KARENA MENJADI AKU ADALAH NEREKA DUNIA..!!

Setelah itu tercipta keheningan diantara kami hingga perkataan terakhirku membuat mereka menatapku tajam

“Aku sangat tau allah ada didalam diriku, ia menjagaku akan tetapi saat ini allah sedang membawa jiwaku berkelana jauh jadi jika nantinya jiwaku kembali maka biarkan dendam itu kutuntaskan dengan segera.”

“Ailaa… Ku mohon berpijaklah pada bumi kembali, kembalikan apa yang sepantasnya kembali, perlihatkan padaku Aila permatasariku yang hilang entah kemana, buanglah sosok asing ini”ucapnya sambil terus menangis tergugu

“Mengapa kau setenang ini Aila, kami saja tdk sanggup membayangkan berada di ragamu. Tetapi kenapa ragamu masih mampu berpijak seperti ini?”aku tidak tau bahwa Aidan yang sadari tadi memilih diam kini mengeluarkan suaranya dengan pertanyaan yang sangat mudah ku ucapkan sebagai jawabannya

“Karena hatiku sudah mati. Sekali lagi jangan pernah menatapku dengan tatapan semenyedihkan itu, karena aku tak ingin kalian melihatku gila disini. Aku permisi pulang, waktu sudah menunjukkan padaku untuk kembali ke dunia gelap. Assalaamu’alaikum”.dapat kurasakan dari tatapan mereka, pasangan suami istri itu tidak ikhlas melihatku melangkah menjauh.

Setelah beberapa menit berjalan akhirnya pijakanku sampai dirumah yang selalu orang pandang kelaurga harmonis. Mereka tak mengetahui rumah ini adalah penjara untukku, penjara yang membuatku harus benar-benar tangguh dalam segala rasa

Hatiku lega,rumah kosong itu berarti hari ini aku bebas dari caci entah kapan berujung, setelah menutup rapat pintu kamarku akhirnya topeng tangguhku menghilang, air mataku datang.

Dapat kurasakan,hatiku sesak entah apa yang ingin kukatakan, semua palsu.
Tegar hanya perisai
Tawa adalah sandiwara
Dan menangis menggila adalah pilihan terakhir dalam otak buntuku

Aku tertawa terbahak-bahak sedangkan air mataku tak berhenti melaju, aku gila bukan ya aku gila karena menertawakan kegilaanku masih ingin bertahan di tempat seperti ini

Ya allah, kapan maut menyapaku..?

Sakit enggak sih jadi aila..?

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here