99 Hari Move On # 01

0
1243
views

Orang Asing


Suara berisik derap langkah terburu-buru menggema di ruangan yang baru saja kumasuki. Setiap pasang mata kini melirik. Aku berhenti karena telah menemukan sebuah tempat untuk duduk.

“Ketemu lagi.” ujar seseorang yang duduk di sebelah. Aku cepat-cepat menoleh. Wajahnya tak asing. Sebuah senyuman kaku kubagi dengannya.

“Eh, iya. Udah lama?” tanyaku basa-basi. Pria itu mengangguk. Aroma tubuhnya yang khas mengingatkanku pada pertemuan pertama kami seminggu yang lalu, tepat di ruangan ini, tepat di kursi ini. Kemudian kami saling diam karena aku pun tak punya pertanyaan lain.

Tak lama, seorang suster keluar dari ruangan kecil di depan.

“Pak Jodi?” serunya sambil menyebarkan pandangan mencari pemilik nama yang baru saja ia sebut. Pria di sebelahku berdiri dan segera menghampiri sang suster. Mereka kompak masuk ke ruangan itu, seketika pintu tertutup lagi dari dalam.

Aku menghela nafas panjang. Mengatur emosi, memejamkan mata. Kucoba mengosongkan pikiran yang terlampau penuh ini. Namun tak bisa. Terngiang suara-suara menjijikan yang selalu menghantui.

Drrrt! Ponselku bergetar, ada sebuah pesan masuk. Langsung saja kubaca karena penasaran. Aku tau siapa pengirimnya walaupun yang tertera di layar hanya angka-angka. Meski kontak itu tak bernama, tapi aku hafal betul nomernya.

[Sayang, kamu dimana? Aku depan rumah.]

Deg! Jantungku rasanya mendetakkan sebuah degupan keras, membuat tubuh sedikit terhentak. Mau apa lagi dia? Gerutuku dalam hati. Tapi tak bisa dipungkiri aku sangat senang membacanya, namun di saat bersamaan pula sangat benci.

Rasa sakit hati ini seolah mengunci jemari agar tak lagi menggubris pesan atau panggilan darinya. Walau itu sebenarnya bertolak belakang dengan hati kecil. Bisa saja memblokir nomernya, tapi hati ini masih tak kuasa.

Mungkin aku akan menangis sejadi-jadinya di ruangan yang penuh oleh pasien lain ini jika saja aku sudah benar-benar gila, namun untung masih dapat kukumpulkan sisa-sisa kewarasanku.

Pintu ruangan kecil itu kembali terbuka, pria wangi tadi keluar bersama suster. Aku berdiri sambil mengangkat tangan memberi kode pada suster, membuat wanita berseragam putih itu mengangguk.

Pria bernama Jodi tadi berlalu begitu saja dari pandangan. Aku menghampiri suster dengan cepat.

“Sus, coba tanya ke dokter, boleh saya dulu nggak? Tadi saya udah janjian sih via telepon.” ujarku agak berbisik.

Suster masuk untuk menyampaikan permintaanku, tak lama ia pun kembali dengan membawa sebuah senyuman. Aku diperbolehkan masuk, terlihat menerobos antrian pasien di ruang tunggu. Aku bukannya menerobos, karena sebenarnya memang dokternya telah memiliki janji denganku tadi pagi.

Dengan perasaan yang sangat tak beraturan ini, cepat-cepat kuhampiri seorang botak yang duduk di belakang mejanya. Senyumku mengembang terpaksa sambil duduk di kursi pasien.

“Gimana sekarang?” tanyanya.

Mata mulai berkaca-kaca dan bibir pun gemetar. Kuremas tangan menahan betapa perihnya hati saat ini.

“Aku nggak kuat, Dok.” air menetes dari sudut mata, tak terbendung.

Kuceritakan semua keluh kesah tentang diriku yang kehilangan semua semangat hidup. Betapa aku ingin memutar kembali sang waktu dan menghindari takdir ini.

“Dia tetap nikah, Dok.”

“Oh ya? Sudah nikahnya?”

“Udah, kemarin banget. Hancur hidup aku tuh, Dok. Kadang rasanya aku maunya mati aja.”

“Wess, ditinggal kawin masa mau mati?” si botak kembali terkekeh seperti biasa. Aku yakin dia paham perasaanku, dia kan ahli psikologi manusia. Namun entah kenapa dia selalu bercanda, tak ada kata-kata bijak khas seorang ahli kejiwaan untuk sekedar menenangkan pasien yang hampir gila ini.

“Ih si dokter! Kalau bukan karena obat yang dokter kasih mungkin aku sekarang udah mati kali.” tegasku.

“Eh, ditinggal kawin tu ya obatnya kamu kawin juga!” candanya. Ingin rasanya menjitak kepalanya yang menyilaukan.

“Nggak mungkin aku bisa cinta sama orang lain, Dok.”

“Itu kan sekarang, detik ini. Coba kalo keluar dari ruangan ini, kamu jalan-jalan. Dandan yang cantik genit, lirik-lirik cowok di luar sana. Buanyak lho yang bisa bikin kamu lupa. Kamunya aja yang belum move on. Jangan nangis mulu. Eh, kukasih resep masih yang sama ya? Oh ya, jam berapapun bebas kok konsultasi via wasap. Jangan galau terus, ya?” katanya sambil menulis resep.

Yah tak apa lah. Obat darinya saja sudah membantu. Biar saja ucapannya yang menyebalkan. Tadinya berharap ia menjelaskan mekanisme patah hati, fase A, B, C yang sedang dan akan kulalui. Meyakinkanku bahwa apa yang kualami hanyalah musibah yang umum terjadi, bahwa bukan hanya aku yang mengalami, atau apa saja yang bisa membantuku tak terpuruk. Tapi mau bagaimana lagi, dokter ini memang selalu bercanda.

“Makasih, ya Dok.” ujarku sambil menerima secarik kertas berisi corat-coret yang tak terbaca.

Aku pun segera keluar dan menuju tempat penebusan obat.

Itulah tujuanku kemari. Obatku sudah habis, jadwal kontrolku telat beberapa hari karena aku tak sanggup pergi kemana-mana sejak kemarin. Untung saja aku tak mati bunuh diri karena kemarin adalah hari pernikahan Baron, tunanganku.

Setidaknya aku bisa tenang setelah mendapatkan lagi obatnya. Jemariku bergetar cukup kencang, mataku bengkak karena entah berapa liter air mata yang kutumpahkan seminggu terakhir.

Baron dan aku telah bersama selama tujuh tahun. Setahun terakhir kami telah bertunangan, rombongan keluarganya datang ke rumah dan melamar. Namun seminggu yang lalu aku diberi kabar tentang pernikahan Baron oleh ibunya. Tentu saja dengan drama yang sangat panjang dan bertele-tele. Mantan calon mertuaku itu datang ke rumah dengan bersimbah air mata dan beberapa kali pingsan saat menceritakan bahwa Baron dituntut untuk segera menikahi wanita yang bernama Elmi, karena di rahimnya telah berkembang janin, anak Baron.

Langkahku agak goyah karena tubuhku seperti menggigil. Tubuh ini seperti tak bisa menahan beban seberat itu, aku merasa sangat lemah.

Kulihat di depan masih ada pria tadi, Jodi. Dia tersenyum lagi seperti memberi kode agar duduk di sebelahnya. Setelah menyerahkan kertas resep ke petugas, aku menghampiri Jodi. Kami pun duduk bersebelahan lagi.

“Jadwal kita bareng, ya? Ketemu mulu.” dia membuka obrolan lagi.

“Iya, harusnya dua hari yang lalu sih, cuma baru sempet.” timpalku.

“Oh gitu. Eh, rumah kamu dimana? Kesini naik apa?”

“Aku ngekos kok, di belakang balai kota, tadi kesini pake ojek.” jawabku tanpa berpikir banyak. Sebenarnya aku malas bicara akhir-akhir ini.

“Abis ini mau langsung pulang?”

“Iya sih kayanya.”

“Eh, temenin aku minum teh, yuk? Kalau nggak keberatan.” ajaknya, mataku terpaku pada bibirnya yang tersenyum. Manis.

“Ng.. Boleh lah.” entah kenapa aku setuju. Entahlah.

“Oh iya, aku Jodi.” betapa anehnya kami baru saling memperkenalkan nama setelah kami setuju untuk minum teh bersama.

“Aku Dea.”

Dia kembali tersenyum. Aku memaksa bibirku untuk tersenyum pula.

“Pak Jodi?” panggil seseorang dari ruangan di depan. Orang asing yang tiba-tiba mengajakku minum teh itu berdiri dan segera mengurus administrasi di loket obat.

Kulihat ia berbicara agak lama dengan petugas. Diam-diam aku memperhatikan bahunya yang bidang. Tubuh tegap di balik kaos hitam polos itu terlihat kuat namun santai. Kuperhatikan dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.

Akhirnya dia kembali dan segera mengajakku pergi. Ia menyodorkan sebuah buntalan plastik.

“Nih, obat kamu. Aku tebus barusan, barengan. Hehe” katanya.

“Aduh, kok aku jadi ngerepotin sih?” padahal dalam hatiku senang. Lumayan, mengirit pengeluaran. Aku menerima plastik yang ia berikan lalu segera memasukkannya ke dalam tas.

Kami pun berjalan bersama menuju pelataran parkir.

Tuit tuit!!
Lampu sebuah mobil berkedip dan mengeluarkan suara saat Jodi memencet tombol di remot kuncinya.

Ia membukakan pintu untukku dan dengan segera ia masuk lewat pintu satunya. Mesin mobil menyala dan ia membawaku pergi dari klinik ini.

“Jadi, kita kan udah kenalan. Kita berarti udah berteman, ya?” katanya memecah kecanggungan di dalam mobil.

“Ya, oke lah, kita temenan.” jawabku sambil tersipu.

“Temenan ekspres ini namanya. Hehe.”

“Hooh. Ini namanya ujug-ujug temenan.” kami sama-sama tertawa geli.

Agak aneh bagiku, jalan bersama orang asing. Duduk di jok mobilnya dan akan menemaninya minum teh sebentar lagi. Tapi memang hidupku akhir-akhir ini aneh. Dunia rasanya terbalik. Percaya atau tidak aku memang sempat merasa lebih baik menyudahi hidup yang sudah hancur ini. Jadi tak ada salahnya aku melakukan hal-hal gila. Aku kini berubah menjadi orang yang lebih cuek dan tak terlalu peduli dengan semua hal. Rasanya memang hidupku tak lagi berharga. Lagi pula tempat kami bertemu adalah di sebuah klinik orang gangguan jiwa. Jadi menurutku sah-sah saja jika kami tiba-tiba menjalin pertemanan. Teman senasib.

Setelah berputar-putar akhirnya Jodi memutuskan tempat yang menurutnya paling pas. Kami turun dari mobil dan segera masuk ke dalam kafe itu.

Tanpa bingung memilih meja, ia mengajakku duduk di sofa kecil yang saling berhadapan.

Akhirnya kami pun sekarang benar-benar duduk berhadapan. Hal gila yang baru pertama kali kulakukan, tapi memang mungkin aku sudah gila.

Seorang pelayan menghampiri. Jodi memesan beberapa menu tanpa meminta pendapatku. Pandanganku terlempar-lempar jauh keluar, aku hanya tak tau apa yang harus kulakukan.

“Jadi, Dea, berapa umur kamu?” tanyanya.

“Dua enam.” jawabku cepat.

“Oh.”

“Kamu?” tanyaku.

“Tiga dua.” balasnya. Baiklah, kini kami saling bertanya soal umur setelah baru saja saling memperkenalkan nama sekitar tiga puluh menit yang lalu.

Dia kembali bertanya tentang banyak hal dan aku menjawab setiap hal yang ia ingin ketahui. Kini ia tau apa pekerjaanku, sekolah dan tahun kelulusanku. Kami mulai mengobrol soal orang tua. Aku menceritakan soal ayahku yang telah berpulang sekitar empat tahun yang lalu, dan ibuku yang tinggal bersama nenek. Sementara aku tinggal sendiri di sebuah kamar kos yang tak jauh dari sini, tepat di belakang gedung balai kota.

Aku pun kini sedikit banyak tau beberapa hal tentangnya. Dia memiliki seorang adik perempuan yang seumuran denganku.

“Aku boleh minum obat disini nggak ya?” tanyaku entah pada siapa. Dia tertawa.

“Minum aja.” kuakui dia memang agak manis. Apalagi setelah satu jam lebih kami mengobrol tanpa henti.

Beberapa hari tak mampu berdamai dengan keadaan, membuat bibirku seperti kaku untuk tersenyum kembali. Namun perasaanku kini mulai membaik, mungkin berkat orang asing ini. Tanpa kusadari aku melupakan tektek bengek soal Baron sial itu selama beberapa jam. Sungguh kemajuan luar biasa mengingat aku tak bisa tidur nyenyak seminggu ini, otakku terus saja memutar semua memori saat kami bersama. Aku hanya bisa tidur dua atau tiga jam, itu pun berkat bantuan obat dari dokter botak.

“Kamu nggak ada kerjaan hari ini?” tanyaku, tak terasa hari sudah sangat sore.

“Nggak.” jawabnya singkat.

“Terlalu asyik ngobrolnya. Teh aja sampe nambah berapa kali.” aku tertawa lepas. Wow, kemajuan luar biasa. Jodi tersenyum tipis memandangiku.

“Kamu mau pulang?” tanyanya.

“Nggg.. Iya nih, efek obat. Ngantuk. Hehe.” jawabku sambil tertawa garing.

“Aku anter sekarang?” tatapannya seolah tak rela melepasku pulang. Sedikit rasa memelas agar aku tetap tinggal.

“Gak pa-pa kalau aku pulang, kan?” kewarasanku menyuruhku agar meminta pulang. Kuakui sebagian diriku yang lain masih ingin berlama-lama dengannya.

“Ya gak pa-pa.” jawabnya sambil tersenyum tipis. Aku merasa dia juga masih ingin berlama-lama denganku.

Kami berjalan keluar kafe dan segera ia membukakan pintu mobil untukku. Jujur saja, dia memang agak lucu dan imut. Andai saja aku sudah move on dan bukan sedang dalam masa pemulihan sakit hati, mungkin aku akan sangat menikmati saat-saat ini.

Aku terus mencuri pandang. Wajahnya mulai melekat di otakku. Aku agak bersyukur karena kalau saja tadi aku langsung pulang dari klinik pasti sekarang aku masih melanjutkan drama tangisan dan ratapanku di kamar kos sendirian.

Tawaran minum teh dari Jodi memang telah menyelamatkan sisa hariku. Namun mungkin ini hanya sesaat. Jika aku tinggal sendiri pasti rasa sesaknya ‘ditinggal kawin’ akan menjalar dan menggerogotiku kembali.

“Belok kiri, sampe.” ujarku mengarahkan. Jodi membelokkan stirnya ke arah kiri lalu parkir.

“Makasih ya, udah nemenin. Makasih banget lho.” katanya.

“Sama-sama, aku juga makasih banget. Udah ditebusin obat, ditraktir nongkrong.”

“Jangan nangis lagi, ya?” katanya, membuatku terpaku beberapa detik. Sepanjang obrolan seru di kafe tadi, kami tak saling bertanya soal alasan masing-masing mendatangi dokter ahli kejiwaan. Yang kami tau, masing-masing dari kami pasti sedang dilanda masalah serius, namun tak ada yang berani menyinggung hal itu.

“Iya, keliatan ya aku abis nangis?”

“Iya.” jawabnya. Sepertinya kami mulai akrab. Ini namanya ujug-ujug akrab. Sorotan matanya menyuruhku untuk tidak turun dari mobil. Entah ini perasaanku saja, atau memang ia menatapku lama. Kami saling bertatapan. Mungkin karena kami berdua gila.

“Makasih ya, Jod.” aku tersenyum lebar. Paling lebar selama seminggu ini.

Tiba-tiba aku tersentak oleh suara ketukan kasar di kaca mobil tempatku duduk. Aku langsung menoleh.

Sial. Itu Baron.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here