99 Hari Move On # 02

0
1426
views

Move on hari ke-1


“Turun!” bentak Baron padaku. Aku menoleh ke arah Jodi. Dia hanya kebingungan mengernyitkan dahi.

Sedetik kemudian Baron menggebrak kaca dengan keras membuatku tersentak, emosiku tiba-tiba membuncah. Aku memang masih sangat mencintainya. Namun apa yang terjadi membuatL ingin sekali menghajarnya.

“Jangan turun, De. Biar aku aja.” cegah Jodi ketika melihatku hendak membuka pintu mobil.

Jodi turun. Astaga! Aku panik karena sangat hafal tabiat Baron.

“Siapa lu?” sentak Baron pada teman asingku. Jodi hanya santai, belum mau menjawab.

Tiba-tiba sebuah upper cut hampir saja mengenai wajah Jodi andai ia tak langsung mengelak. Aku membuka pintu mobil dan segera menghampiri mereka.

“Jod, kamu mendingan pulang deh.” kataku sambil menarik lengannya, menjauh dari Baron sial.

“Sebelum dia pergi, aku nggak mau pulang.” jawabnya sambil menunjuk tunanganku, yang sekarang telah menjadi suami orang.

“Heh! Gue ni tunangannya si Dea!” seru Baron, membuatku langsung menoleh padanya. Aku menggeleng kepala. Jodi sepertinya agak kaget.

“Jod. Kamu pulang aja, ya. Nggak pa-pa kok ini. Emang agak stres aja ni orang. Aku udah biasa kok nanganin dia.”

“Oh. Oke.” jawabnya pelan. Perlahan ia menarik diri masuk ke dalam mobil. Aku terus memandanginya. Suasana adem yang kami bentuk sedari siang tiba-tiba hancur berantakan.

“Siapa itu?” Baron menarik lenganku kasar.

Mobil Jodi mundur dan segera berlalu. Agak menyesal meminta pulang, kini harus berhadapan dengan manusia si penghancur hidup.

“Ngapain lo ganggu gue?” aku menepis cengkramannya sambil berjalan menuju pintu kos.

“Dea, please. Dengerin aku.” katanya merendahkan suara.

Aku menatapnya, wajah yang begitu akrab menghiasi hari-hariku selama tujuh tahun. Kuperhatikan tiap garis wajahnya, sempurna. Bibir merahnya, hidung mancung dan sepasang alis yg saling berdekatan. Bila harus jujur, ingin sekali aku berlari menghampirinya lalu mendekap sambil menangis. Membujuknya agar kembali padaku, mengatakan bahwa aku tak mau ditinggalkan. Bahwa aku bisa mati tanpanya. Ah! Hatiku sangat sakit. Air mataku meleleh lagi. Ini kali pertama kami bertemu sejak aku mendengar kabar ia akan menikah. Si pengecut ini baru berani datang. Kalau ingin menjelaskan, kenapa baru sekarang? Andai saja sebelum hari pernikahannya dia datang dan bicara baik-baik, aku mungkin bisa memaafkannya. Mungkin.

“Denger apa?” menyembunyikan rasa rinduku. Ia menghampiri.

“Maaf, De. Ini bukan keinginan aku.” aku menatap matanya. Ia berkaca-kaca juga. Ah! Semua syaraf di tubuhku memerintahkan untuk memeluknya saja. Tapi hati ini melarang.

Seminggu yang lalu kami masih baik-baik saja, namun entah karena kutukan apa semua terjadi begitu cepat dan tak masuk akal. Mungkin memang takdir kami, namun caranya sangat menyakitkan. Jangan seperti ini.

“Terus keinginannya siapa?” aku menangis sejadi-jadinya. Obat dokter botak bahkan tak mampu membantuku tenang.

“Maaf.” dia pun ikut menangis. Kami berdua tersedu-sedu. Rasanya langit runtuh. Semua rasa cintaku masih sama pada Baron. Aku sangat rindu.

Tiba-tiba aku teringat bahwa perempuam yang dinikahinya itu sudah mengandung anak Baron. Rasa benci dan jijik bercampur sangat kuat. Aku mengambil sesuatu dari dalam tas. Cincin tunangan.

“Makan nih, ambil. Jual tuh buat biaya ngelahirin!” dengan segenap emosi yang hampir meledak tak terkendali, aku melemparkan cincin paling berharga itu tepat ke wajahnya.

“Dea! Jangan gitu.” ia memungut benda kesayanganku itu.

“Pergi sana! Jangan harap aku mau maafin kamu. Semoga hidup kamu sengsara!” umpatku. Memang aku menyayanginya, sangat mencintainya. Aku yang seharusnya dia nikahi. Kenapa perempuan lain? Kenapa secepat ini, ketika kami masih menjalin hubungan yang sangat baik. Kalau tau akan begini, akan kuputuskan Baron sebulan yang lalu. Jangan begini. Membuatku menjadi wanita paling tak berharga. Dibuang.

“Dea.” dia hanya menangis di atas lututnya.

Aku masuk ke dalam kamar, menutupnya rapat-rapat. Tangisku semakin menjadi. Rasa benci mulai membanjiri pikiran. Benci pada Baron, benci pada istrinya.

Elmi. Ya, istri tunanganku itu. Aku mengenalnya cukup baik. Kami dulu kuliah di tempat yang sama. Berani-beraninya dia merebut Baron. Seluruh dunia pasti sudah tau bahwa Baron milikku, aku yakin termasuk dia. Tak habis pikir, aku mengutuki diri saat membayangkan bagaimana mereka diam-diam menjalin hubungan di belakangku. Bagaimana mereka memadu cinta, hingga Elmi berbadan dua. Sial! Cepat-cepat ku sobek bungkus obat dan memakan isinya buru-buru. Tanganku bergetar hebat. Kutelan pil itu tanpa bantuan air. Biar saja pahit. Pahit adalah teman baruku sekarang.

Aku hanya ingin tenang. Aku ingin bisa merelakan takdir. Walau hati ini masih sangat condong pada Baron, namun otakku memerintahkan agar cepat melupakannya. Orang seperti Baron tak pantas dicintai dengan tulus. Maaf bila aku terus menyumpahi agar pernikahan mereka cepat-cepat menemukan titik kegagalan.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka seraya seseorang masuk tergesa. Baron lagi. Aku menyesal tak menguncinya.

“Pergi! Kamu nggak tau gimana hancur hidupku sekarang? Belum puas? Sana pergi!” usirku kasar. Dia malah menutup pintu dan menguncinya.

Tiba-tiba ia menyerbu dan menutup mulutku dengan satu tangannya. Aku sangat terkejut, meronta-ronta dan sekuat tenaga melawan desakan tubuhnya. Mungkin ia akan membunuhku karena tak mau memaafkan. Jeritanku tersumpal oleh telapak tangan Baron yang menekan dengan kuat. Ia mendorong tubuhku hingga terbanting ke lantai bersamanya.

Kepalaku terbentur keras, nafasku sesak. Tinjuanku tak akan mempengaruhinya. Aku mulai lemas.

“Kamu harus maafin aku!” katanya berbisik di telinga.

Kembali terus melawan dengan sisa kekuatan, kakiku tak terkendali menendang meja kecil di sebelah ranjang.

Brakk!! Gompreng!!

Lampu tidurku jatuh dan pecah. Sebuah mug, ponsel dan toples berisi cemilan ikut terbanting. Berserakan.

Satu tangan Baron menutup mulut dan hampir seluruh bagian lubang hidungku. Rasanya aku memang akan mati hari ini di tangannya. Sementara tangan yang lain menjalar menuju resleting celananya. Bisa kurasakan saat ia berusaha membuka kancing celana jeans hitamnya, lalu menurunkan resleting.

Aku menangis hingga terbatuk-batuk, nafasku hampir putus.

“Kalau kamu nggak mau, aku paksa. Kamu tuh cuma milik aku, Dea.” ujarnya dengan sorotan mata iblis.

Aku teriak dari balik telapak tangannya. Terus menangis dan batuk-batuk.

“Kamu nggak pernah mau aku ajak begini, makanya aku cari pelampiasan ke cewek lain. Tapi kehamilan dia dan pernikahan ini bukan rencana aku, sayang. Aku maunya sama kamu!”

Tamatlah aku! Apa begini akhir tragisnya? Mati di tangan Baron? Tak pernah terpikir olehku kalau dia bisa berubah menjadi monster seperti ini. Aku saja rela melepasnya dengan pilihan jahat itu, kenapa dia tak membiarkanku hidup sendiri?

Tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan keras seperti didobrak dari luar. Baron yang belum sempat berhasil menguliti celanaku terhenti dan menoleh ke arah pintu. Cengkraman tangannya di mulutku melonggar, membuat leluasa menggigitnya sekuat tenaga.

“Aaaaaaakh!” dia kesakitan sambil melepaskan tubuhnya dariku. Cepat-cepat membetulkan kancing dan resleting celananya. Aku berteriak sambil menangis kencang.

Kulihat sosok tinggi berkaos hitam polos di ambang pintu. Itu Jodi. Tatapannya kesal pada Baron. Lalu beralih menatapku, kesal juga. Aku berdiri lalu duduk di ranjang. Harga diriku telah dicabik-cabik. Rasanya lebih baik kalau aku mati saja.

Baron membabi buta menghampiri Jodi dengan posisi siap menghajar. Namun terhenti karena ternyata Jodi tak sendiri. Pemilik kos-kosan yang bernama Sri dan seorang pria paruh baya mengamati kami dari luar kamar. Itu ketua RT setempat.

“Kurang ajar sekali, Nak Baron?!” ujar Bu Sri tak menyangka.

“Sini, sini!” sentak Pak RT sambil melotot pada Baron.

Sementara Jodi hanya diam, belum bergerak sedikitpun. Masih menatapku tajam. Aku merasa begitu tak berharga, menjijikan. Mungkin pikiran Jodi pun sama.

Baron keluar dari kamar dan bergabung dengan Pak RT juga Bu Sri. Sementara Jodi menatapku tajam. Aku berhenti menangis, membalas tatapannya. Apa? Tantangku dalam hati.

Entah kenapa aku benci pada semuanya. Harusnya aku berterima kasih pada Jodi karena menyelamatkanku. Tapi hatiku sudah hancur, tak ada lagi rasa selain kebencian.

Aku mengusap air mata bercampur keringat di sekujur wajah. Jodi mendekatiku perlahan. Sementara tiga manusia di luar kamar sedang merundingkan sesuatu entah apa.

“Apa perlu kita ke kantor polisi?” tanyanya pelan. Aku menggeleng tanpa melihat wajahnya.

“Gak usah.”

“Kamu mau ini terjadi lagi?”

Aku melirik, menatapnya sinis.

Drrrt! Ponselku yang tergeletak di lantai bergetar. Kuraih dan langsung membaca sebuah pesan masuk.

[DEA, SAYANG.
Maaf, ya, aku ngerebut Baron. Tapi bukan aku yang mau. Dia yang terus ngejar2 aku. Sekarang kami udah suami istri. Kamu tau kan? Aku lagi hamil. Baron kecil ada di rahimku. Aku harap kamu cepat move on, ya? Buang cincin tunangan kamu. Jangan berharap lagi sedikitpun. Aku dan Baron akan bahagia selamanya.]

Aneh. Tak ada rasa sakit atau cemburu seperti biasa. Aku hanya ingin tertawa. Kulangkahkan kaki menuju luar kamar. Dengan kamera ponsel aku mengambil gambar diriku dengan sengaja membawa gambar Baron di belakangku. Cekrek!

Kubalas pesan barusan dengan mengirimkan foto itu. Kusertakan caption singkat.
[suruh laki lo yang move on, jangan nyamperin gue mulu. Bakal dihajar dia kalo ketauan sama cowo baru gue.]

Kuketuk simbol panah yang berarti mengirim.

Jodi berjalan mendekat dan langsung menggamit lenganku. Dia membawaku pergi dari sana. Meninggalkan Pak RT, Bu Sri dan Baron yang tampan tapi sialan.

“Usir aja, Bu. Kalau kemari lagi, baru lapor polisi.” ujarku sambil berlalu.

Jodi membawaku pergi dengan mobilnya. Di perjalanan kami agak lama saling diam. Kejadian menjijikan barusan sangat membuatku depresi. Aku sepertinya gila.

Aku menunggu reaksi Elmi, istri Baron. Namun tak kunjung ada balasan. Rasanya puas sekali.

“Makasih ya?” ujarku memecah kesunyian.

“Sama-sama.” jawab Jodi ketus sambil terus berkonsentrasi menyetir.

“Judes amat. Mau kemana ini?”

“Ke rumahku.”


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here