14 Hari Melukis Senja #09

0
219
views

Menarik


“Setiap orang punya daya tarik tersendiri. Jadi jangan takut untuk
tidak terlihat menarik di mata seorang.”

 

 – Airlangga Darmawangsa-

 

Naya meringis karena kepalanya masih terasa pusing, dia berusaha bangun untuk memposisikan diri menjadi duduk. Naya baru ingat kalau tadi dia pingsan dipangkuan seorang. Namun orang itu siapa? Suaranya juga tidak Naya kenali.

“Lo… siapa?

“Pangeran lo.”

“Pangeran kodok kali ah!” Naya bergumam sembari meringis kecil dan memijat kepalanya yang terasa berdenyut.

“Lo udah bangun?”

Naya mendongak, menatap seorang di depannya dengan mulut sedikit terbuka karena terkejut. Cowok itu juga membawakan dia segelas teh hangat.

“Minum dulu.”

Naya refleks menutup mulut dan mengangguk pelan, lalu menerima segelas teh itu. Tidak banyak yang Naya minum karena jujur saja, Naya tidak suka teh manis apalagi teh nya hangat.

“Lo udah ngerasa baikan?” Cowok itu duduk di kursi dekat brankar.

Naya tidak langsung menjawab, karena dia teringat kejadian tadi saat melakukan konser. Masih malu karena cowok di sebelahnya ini melihat kelakuan bobroknya. Hancur sudah image Naya.

“U-udah kok, udah,” jawab Naya kaku sembari tersenyum canggung.

“Eumm… lo yang tadi gendong gue kesini?” tanya Naya kaku.

Cowok itu hanya mengangguk, membuat Naya mengigit bibir karena malu. Pasti mukannya tidak konek saat pingsan, dan pastinya cowok ini ngakak melihat bagaimana wajahnya tadi.

“Btw makasih, ya…” Naya mengantungkan ucapannya karena dia pura-pura tidak tahu siapa cowok di hadapannya ini. Ada alasan tertentu Naya berpura-pura tidak tahu siapa cowok ini.

“Rendra. Rendra Adhikari.” Cowok itu melanjutkan ucapan Naya lalu mengulurkan tangan.

Naya mengangguk kaku.”O-oh iya. Makasih, ya. Rendra?” jawab Naya sambil menerima uluran tangan tersebut.

Naya tahu kalau cowok ini bernama Rendra. Karena dia adalah teman baiknya Angga. Hanya saja Naya lebih memilih berpura-pura tidak tahu karena takut disangka SKSD. Alias sok kenal sok dekat. Jadi Naya perlu mempertahankan image-nya walau tadi sempat hancur akibat konser dadakan di kelas.

“Eh, lo mau ke mana?” tanya Rendra melihat Naya yang hendak turun dari brankar.

“Ini udah istirahat, kan?” Rendra mengangguk.”Gue mau istirahat.”

“Tapi muka lo masih pucat.” Rendra membantu Naya berdiri karena kelihatannya gadis itu masih lemas.

Naya tersenyum hangat.”Nggak apa-apa kok. Udah mendingan. Btw sekali lagi makasih, ya?” Naya mulai berjalan, sedangkan Rendra masih diam di tempat.

“Lo mau gue anter?”

Naya menggeleng sembari sedikit menoleh.”Nggak usah. Gue bisa sendiri kok.”

Rendra tidak bertanya lagi dan hanya memperhatikan Naya yang mulai ke luar pintu UKS. Detik berikutnya tanpa sadar Rendra mengukir senyum tipis.

“Menarik.”

-Airlangga-

“Lo dari mana aja dah?” tanya Darka melihat Rendra yang baru saja datang.

Sekarang. Meja kantin paling pojok kanan tengah diisi oleh Angga, Daniel, Rendra dan Darka. Sebenarnya aneh juga karena di mana-mana bagian paling pojok selalu diisi oleh anak cowok yang rata-rata badboy atau cogan. Kelihatannya tempat pojok adalah paling nyaman untuk mereka.

“Habis nambah pahala.”

Jawaban Rendra membuat Darka dan Daniel mendengus namun membuat Angga terkekeh.

“Emangnya lo habis ngapain?” tanya Daniel.

Rendra meminum es teh nya lebih dulu. Entah milik siapa yang jelas sepertinya itu milik Angga, karena detik berikutnya cowok itu mendelik.”Habis tolongin si Naya.”

“Naya?” Dahi Angga mengkerut.”Yang tadi pimpin konser di kelas?” Rendra mengangguk membuat Angga hanya berdeham mengerti.

“Emangnya Naya kenapa?” tanya Darka membuka suara.

“Pingsan.”

“Kok bisa?”

Angga dan Daniel saling tatap karena mereka berucap berbarengan. Detik berikutnya mereka mengembangkan senyuman penuh arti. Membuat Rendra dan Darka saling lempar pandangan curiga, curiga mode gila Angga dan Daniel kumat.

“Ah kamu. Ngikutin aku terus bisanya.” Daniel mencolek lengan Angga dengan manja lalu tersenyum malu-malu.

Angga terkekeh sok imut, lalu balas mencolek lengan Daniel.”Kamu yang ngikutin aku kali.”

“Kamu. Udah ngaku aja.”

Angga kembali membalas colekan Daniel pada lengannya.”Aku bilang kamu. Bilang aja nggak usah malu-malu gitu sama aku.”

Rendra yang memijat pelipis melihat kelakuan dua temannya ini, dan Darka yang menatap datar pada keduanya yang masih saling tuduh sambil tetap saling mencolek-colek lengan dengan gaya manja.

“Anjir! Gue siram juga lo berdua pake kuah soto!” Darka emosi, bersiap menyiram keduanya dengan mangkuk soto yang sudah dia angkat. Geli dia tuh.

Hening sejenak, sebelum akhirnya Angga dan Daniel tertawa puas melihat wajah kesal Darka.

“Sama-sama gila dasar.” Rendra bergumam.

“Eh iya, kenapa si Naya bisa sampai pingsan gitu?” tanya Daniel kembali ke topik awal.

“Kayaknya dia belum sarapan, di tambah dijemur di lapangan. Makannya kayak gitu,” jawab Rendra sembari memakan gorengan yang ada di hadapannya.

“Berarti lo tadi gendong Naya dong?” tanya Angga.

Rendra tersenyum lebar, menepuk dua otot tangannya bergantian.”Oh jelas. Otot kawat tulang besi kayak gini masa nggak kuat gendong modelan kayak si Naya.”

“Cari kesempatan dalam kesempitan nggak tuh?”

Rendra berdecak, Daniel kelihatannya tidak percaya kalau dia tulus menolong Naya.”Udah gue bilangin tadi gue udah nambah pahala. Kok lo mikirnya kayak gitu sih anjim?!”

“Kali aja gitu.” Daniel tertawa pelan.”Iya, nggak, Dar?”

Darka hanya mengangguk, cowok itu paling tidak bisa diganggu jika soal makan soto. Oleh sebab itu dia dari tadi jarang ikut menimpal.

“Btw. Si Naya lucu juga, ya?”

“UHUK! UHUK!”

“APA LO BILANG?”

Angga sedikit meringis mendengar pertanyaan mereka bertiga yang berbarengan dan nada  yang cukup tinggi. Apalagi mereka keselek makanan bersamaan, kompak sekali mereka bertiga.

“Kenapa? Ada yang salah?”

Namun bukan jawaban yang Angga dapatkan, melainkan tatapan cengo dari mereka bertiga. Sampai akhirnya Angga mendengar Daniel berucap,”Alhamdulillah. Akhirnya lo tertarik juga sama cewek.”

“Sialan.”

-Airlangga-

Seorang cowok yang membawa helm full face di tangan kanannya itu berjalan santai menuju garasi koleksi motornya.

Sesekali dia bersiul pelan untuk mengisi keheningan malam.

Kameja flanel berwarna coklat hitam yang sengaja tidak di kancingkan hingga memperlihatkan dalaman kaos polosnya menjadi style pilihan Angga malam ini. Jeans hitam yang lututnya sengaja sobek juga sepatu Converse nya menjadi pelengkap style nya malam ini. Keren, Angga memang selalu keren.

Membuka pintu garasi lalu berjalan menuju motor klx berwarna biru hitam. Malam ini dia akan kumpul bersama anak Comando. Komunitas motor di Bandung yang memang dia ikuti.

Menaiki motor, Angga terdiam sejenak untuk menggulung lengan kemejanya sampai siku. Namun suara seorang perempuan yang memanggilnya dengan sebutan ‘Abang’ membuat Angga menoleh ke belakang.

Angga tersenyum tipis lalu turun dari motor. Berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan anak gadis berusia tujuh tahun itu. Auristella Darmawangsa, adik kandung Airlangga Darmawangsa. Adik yang paling Angga sayangi.

“Kenapa, Stell?” tanya Angga lembut.

Gadis dengan pita menghiasi rambutnya itu cemberut. Menatap Angga dengan sendu.”Abang mau pergi?”

“Iya. Kenapa gitu?”

Raut wajah Stella semakin sedih.”Kok Abang pergi? Bukannya Abang udah janji mau main sama, Stella?”

Angga berpikir sejenak, bagaimana jika dia membawa Stella pergi bersamanya.

Mungkin itu ide yang bagus, daripada melihat adiknya murung seperti ini.

“Kalau gitu, Stella ikut aja sama Abang. Gimana?” tanya Angga sembari tersenyum.

“Emang boleh?”

“Boleh. Kenapa nggak?”

Stella mengembangkan senyum lalu merangkul Angga dengan antusias.”Ayo Stella ikut!”

Angga semakin tersenyum lalu mengendong Stella dan mendudukannya di atas motor.

“Eh tapi Papa gimana, Bang?”

Gerakan Angga saat memakai helm terhenti. Dia berpikir sejenak sebelum berbisik pada Stella.”Kita kabur aja.”

Keduanya terkikik lalu ber-tos. Dasar Angga, sudah mengajari yang tidak baik pada anak kecil di usia dini. Angga lalu naik, menyalakan mesin motor dan pergi dari garasi.

Satu sisi. Seorang pria yang sedang mencari-cari keberadaan putri kecilnya menyipitkan mata, saat melihat putranya ke luar dari garasi dengan anak kecil yang dia bawa.

Menarik napas dalam lalu berteriak,”AIRLANGGA DARMAWANGSA! MAU KAMU BAWA KE MANA STELLA?!”

Angga menghentikan laju motor tepat di depan gerbang. Lalu menengok ke arah Papanya yang berdiri di depan rumah sambil berkacak pinggang.”Pinjem Stella nya. Angga mau jual buat beli motor baru.” Angga tertawa pelan setelahnya lalu kembali melajukan motor.

“Dadah, Papa.” Stella melambaikan tangan.

“ASSALAMUALAIKUM, PA!”

“Waalaikumsalam.” Kemal menjawab salam Angga lalu kembali berteriak,”ANGGA! AWAS KAMU YA!”

Angga tertawa pelan di jalan bersama Stella. Walau Angga yakin dirinya akan kena omel saat pulang, karena Papanya selalu melarang dirinya membawa Stella dengan alasan suka lupa waktu. Namun Angga tidak peduli, sesekali membawa adik ke tempat tongkrongan tidak salah, bukan?

“Abang?”

“Hmmm?”

“Abang mau jual Stella?”

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here