14 Hari Melukis Senja #06

0
77
views

Angga dan Dehan


“Selain pembangkit, dia juga perusak.”
Nayanika Deolina.

Sudah beberapa hari sampai hari Senin pagi ini Naya masih saja badmood. Selain karena Angga juga kejonesannya hari itu. Naya yang sedang badmood makin badmood karena waktu malam Minggu dia diajak malam mingguan di bukit bintang bersama teman-temannya. Tentu saja dia jadi kancong, untung saja dia bertemu Daniel. Ya Daniel sepupunya Angga, hingga Naya bisa sedikit mengorek informasi dari cowok itu mengenai Angga.

Naya menghela napas, lalu mulai memasang topi dan berjalan menuju lapangan.

Anak Paskib yang menjadi pengibar tentu sudah diatur sesuai jadwal, dan Naya tidak kebagian Minggu ini.

Saat merapikan barisan di kelasnya. Naya menoleh ke belakang, dia segera memalingkan wajah ke depan karena ternyata Angga baris tepat di belakangnya. Hey, kenapa cowok itu harus ada tepat di belakangnya?

Anak IPA 4 kok disini anjir? Naya bertanya dalam hati. Ini barisan anak IPA 2, apalagi ini barisan perempuan.

Naya yang gugup sekaligus bingung meremas samping rok nya dengan kepala tertunduk. Ayolah, dia lebih baik melihat Angga dari jauh daripada dekat seperti ini.

“Ya Allah si fakboi. Mau ganti kelamin lo?”

Naya refleks menoleh begitu pun beberapa orang yang berbaris. Ternyata itu Daniel, bersama dua temannya.

“Penuh. Nyelip aja disini.”

Dapat Naya dengar itu adalah suara Angga.

Rendra melirik siapa yang ada di hadapan Angga. Jam tangan hitam dengan rambut sebahu. Rendra tahu siapa itu.”Mau cari kesempatan dalam kesempitan lo?”

Angga hanya tersenyum sembari menaik turunkan alisnya.

Darka menggeleng pelan.”Sempet-sempetnya lo kayak gitu. Tobat boy, tobat.”

“Yang otaknya suka traveling ke Jepang mah gitu.” Perkataan Angga mampu membuat beberapa siswi yang berbaris menahan tawa. Namun disisi lain mereka juga ingin di posisi Naya yang berdekatan dengan Angga.

“Ya terus lo ngapain baris disitu anjir?” tanya Daniel dengan satu tangan bertolak pinggang.”Bu Sulis nanti marahin lo.”

“Kan gue udah bilang. Barisan kelas kita udah penuh dodol!” Angga menjawab sembari sedikit berdecak. Membuat Naya mengulum bibir menahan senyum karena suara Angga yang terkesan greget pada Daniel.

“Nggak usah dibarisan cewek juga pinter!” kesal Darka.

“Aelah, suka-suka gue dong.” Angga tidak mau disalahkan.

Daniel mengangguk-anggukan kepala pelan, dia melirik siapa gadis yang ada di hadapan  Angga.”Ohhhh…. itu, Ga? Yang itu?” Daniel Menaik turunkan alisnya sambil terkekeh menatap Naya dan Angga silih bergantian.

Angga lagi dan lagi hanya menaik turunkan alis sambil tersenyum penuh arti.

“Naya?” Daniel memanggil membuat Naya menoleh.”Kemarin malam gimana pulangnya? Nggak kenapa-napa?”

Naya menggeleng sambil tersenyum.”Aman kok,” jawabnya sambil mengacungkan jempol.

Darka dan Renda yang berada di kiri kanan Daniel menoleh heran pada Daniel, membuat Daniel yang ditatap seperti menatap keduanya bergantian.”Kenapa liatin gue gitu banget?”

“Lo selingkuhin Vera?” Detik berikutnya Renda meringis karena mendapat jitakan dari Daniel.

“Dari jaman SMP gue udah pacaran sama dia. Ya kali gue selingkuhin dia!” Daniel sedikit menyentak.

Darka menghela napas.”Ya terus ucapan lo tadi?” tanyanya dengan satu alis terangkat.

Daniel berdecak. Ucapannya tadi memang membuat orang akan berpikir yang aneh-aneh, Daniel paham itu. Namun bukan berarti Daniel berselingkuh dari Vera, apalagi dengan Naya. Daniel akui dirinya memang kerap menggoda atau dekat dengan cewek lain. Namun tetap, hatinya tetap untuk Vera walau sikapnya memang terkesan tidak menghargai Vera sebagai pacar.

Beda sekolah dengan Vera bukan berarti Daniel tidak bisa menjaga hati, walau memang Daniel akui kalau dia tidak bisa menjaga sikap.

“Ya bukan berarti gue selingkuh sialan!”

“Emangnya lo ngapain semalam sama Naya?” tanya Rendra.

“Ke–” Daniel tidak melanjutkan ucapannya karena melihat anak OSIS mulai memeriksa barisan yang belum rapih. Cowok itu segera bergegas menyuruh temannya pergi ke barisan yang seharusnya. Angga yang sedari tadi diam dan memperhatikan masih diam melihat kode dari Daniel yang menyuruhnya pindah barisan.

Bukannya pindah barisan, Angga malah mundur hingga di ujung lapangan namun tidak terlalu jauh dari barisan. Membuat ketiga cowok tadi berdecak yang alhasil mereka ikut berbaris bersama Angga. Hanya saja jarak mereka agak berjauhan.

“Lho. Kalian, kan bukan anak IPA 2. Kalian juga cowok. Terus kenapa baris di–“

“Nggak usah banyak bacot. Semua punya hak buat baris di mana aja. Asal ngikutin ucapacara dengan hikmat.”

Daniel, Rendra dan Darka dibuat melongo menatap Angga. Itu Angga yang bicara?

Biasanya cowok itu malas berurusan dengan anak OSIS. Namun ternyata kali ini dia buka mulut. Mereka bertiga tersenyum bangga dengan ucapan Angga yang sekali bicara memang pedas dan licin mulutnya itu.

Fatih, selalu wakil ketua OSIS menghela napas kasar.”Lo berempat nggak seharusnya disini. Ini tempat PMR sama anak OSIS.” Memang, bagian paling  belakang barisan akan diisi oleh anak OSIS dan PMR untuk memastikan upacara berlangsung berjalan dengan baik.

“Kenapa?”

 Angga memasang wajah songong. Membuat beberapa siswi yang memperhatikan gigit bibir karena muka songong Angga malah semakin membuatnya menawan.

Pesona cowok ganteng memang selalu beda.”Karena kita bukan anak OSIS atau PMR, jadi kita nggak punya hak baris disini?”

“Lo di–“

“Jangan lupa. Kita berempat manusia. Dan setiap manusia punya haknya masing-masing.” Wajah Angga sedikit mendekat pada Fatih lalu jari telunjuknya dia ketuk beberapa kali di kepala.”Gunain otak lo. Jangan sok mentang-mentang punya nama!”

Daniel, Rendra dan Darka refleks bertepuk tangan pelan dengan gelengan takjub.

Jiwa bar-bar Angga jika sudah keluar memang membuat siapapun akan terkejut.

Fatih berdecih, melihat penampilan Angga dari atas sampai bawah juga penampilan ketiga temannya Angga membuat dia mengepalkan tangannya kuat.

 Sialan, ingin lanjut memarahi dengan alasan pakaian yang tidak rapih namun justru penampilan mereka pagi ini benar-benar-benar rapih dengan atribut yang lengkap dan tidak urakan seperti biasa.

Melirik Angga, Fatih melanjutkan langkahnya menuju barisan lain tanpa sepatah kata pun.

The best emang mulut lo!” Daniel mengacungkan dua jempol. Membuat Angga hanya terkekeh singkat lalu berbaris dengan benar karena upacara akan segera dimulai.

Sementara Naya yang mendengarkan pembicaraan Angga dan yang lainnya sedari tadi tersenyum sambil menggeleng pelan. Ternyata, mulut Angga pedas juga jika  soal urusan menang atau kalah.

Tanpa sadar, Angga memang pembangkit mood sekaligus perusak mood untuk Naya.

-Airlangga-

“Cil? Bocil?”

Naya bersama ketiga temannya yang sedang duduk di meja kantin menoleh. Dita, Lesya mau pun Seril tahu panggilan itu untuk siapa dan dari siapa.

Tentu saja dari Dehan untuk Naya.

Naya berdecak.”Lo masih aja panggil gue bocil!”

Dehan berdeham.”175 sama 155 mohon maaf tinggian mana ya?’

“Anjir banget lah!”

Dita, Lesya dan Seril refleks menahan tawa mendengar penuturan Naya. Naya memang bisa dibilang paling pendek diantara keempat temannya. Karena tinggi ketiga temannya rata-rata 160 cm, bahkan Lesya paling tinggi dengan tinggi badan 165 cm.

“Makannya, tumbuh itu ke atas. Bukan k–“

“SAMPING!”

Naya semakin berdecak kesal karena ketiga temannya malah melanjutkan ucapan Dehan. Memang, resiko kurang tinggi itu menyakitkan.

“Udah ah! Lo mau ngapain sih?” tanya Naya sembari menatap Dehan dengan malas.

Dehan tersenyum penuh arti.”Anter gue yu?”

“Males ah! Lagian mau ke mana coba?”

“Nanti malam gue kirim martabak manis kesukaan lo deh.”

“GASSS!”

Naya langsung berdiri dan menarik tangan Dehan dengan segera. Rautnya yang semula kesal kini berubah menjadi ceria, apalagi gadis itu kembali antusias. Martabak manis dengan toping keju dan susu coklat adalah kesukaan Naya yang tidak bisa diduakan selain snak lays tentunya.

“Maniac martabak emang,” gumam Dita sambil menggelengkan kepala dan melanjutkan makan soto nya.

“Lo pada ngerasa si Dehan suka lagi sama Naya nggak sih?” tanya Seril tiba-tiba.

“Kalau menurut gue sih. Ada kemungkinan. Soalnya si Dehan deketin si Naya terus,” balas Lesya.

“Ah nggak. Mereka kan temenan. Lagian si Dehan katanya lagi ada inceran kalau nggak salah.” Dita ikut menimpal, karena menurut informasi yang dia dapat dari Aina anak IPS sekaligus teman ekskulnya yang sekelas dengan Dehan. Cowok itu sedang mengincar adik kelas dari kelas Bahasa 3.

“Sama mantan bisa akur gitu, ya.” Seril terkekeh. Lucu juga kalau dipikir-pikir. Jika dirinya mana mungkin bisa akur dengan mantan seperti  Naya.

Dita mengangguk.”Udah sama-sama dewasa sih.”

“Malahan jadi solid banget nggak tuh?”

“Aseli. Seru liatnya juga,” balas Dita atas ucapan Lesya.

 

-Airlangga-

“Eh kita mau ke mana sih?” tanya Naya baru ingat setelah berhenti di koridor.

“Oneng dasar!” Naya sedikit meringis karena Dehan menyentil dahinya.”Makannya tanya-tanya dulu kalau mau tarik anak orang.” Naya hanya menyengir sambil meminta maaf, membuat Dehan menghela napas kasar.”Anter gue beli seblak bi Imas.”

“Huh?!” Naya menatap Dehan tidak percaya. Seorang Dehan Sarkala membeli seblak? Naya tertawa membuat Dehan mengkerutkan dahinya.

“Kenapa lo ketawa?”

“Lo nggak salah mau beli seblak bi Imas?” tanya Naya masih belum percaya Dehan akan membeli seblak bi Imas yang memang terkenal paling enak di SMA Wijaya. Namun letaknya memang bukan di sekolah, tetapi di belakang sekolah karena bi Imas membuka warung sendiri.

Dehan menggaruk tengkuknya merasa agak sedikit malu saat mengerti ucapan Naya. Karena Naya tahu kalau dia paling benci dengan yang namanya seblak, dan sekarang dia malah ingin membelinya. Apalagi ini karena seseorang.

Mata Naya menyipit, menunjuk Dehan dengan penuh selidik. “Lo, kan benci banget sama yang namanya seblak. Kenapa tiba-ti–“

“Lo juga sama bencinya sama seblak!” Dehan memotong.

“Heh! Gue bukan benci, tapi gue emang nggak suka sama yang namanya seblak.

Tapi kalau pengen ya gue beli, kalau nggak ya liatnya aja mana sudi.”

Memang, Naya tidak suka seblak. Jika disuruh memilih antara seblak dan gorengan. Naya akan memilih gorengan ketimbang seblak yang menurutnya ribet untuk dimakan. Apalagi seblak tulang, naya paling tidak suka berurusan dengan seblak tulang.

Mata Naya kembali menyipit.”Jangan-jangan lo pengen beli karena–”

“Iya, iya. Gue pengen beliin seseorang.”

  “Acieeee….” Naya menggoda Dehan sambil mencolek-colek lengan atas cowok itu.”Punya gebetan baru nih yeee.”

Sudah dibilang mereka jadi sangat dekat sebagai teman. Karena menurut mereka, putus hubungan bukan berarti putus tali silaturahmi. Apalagi mereka awalnya hanya sekedar teman, jadi kenapa tidak bisa jika mereka harus kembali menjadi teman seperti di awal?

Mungkin jika perempuan lain akan merasa canggung dan bagaimana ketika berteman dengan mantan. Namun Naya tidak, karena dia sudah tidak memiliki rasa apapun pada Dehan. Apalagi dulu hubungan mereka hanya terjalin satu bulan. Jadi mau bagaimana bisa Naya gagal move on dari Dehan?

Karena sejatinya. Perempuan akan berteman dengan mantan jika sudah tidak punya perasaan. Betul?

Dehan menyugar rambutnya sok ganteng.”Oh jelas. Nggak kayak lo, jomblo terus.”

“Gue nggak jadi nganter, nih, ya gue balik!”

Dehan segera menahan tangan Naya yang hendak berbalik.”Iya, iya maaf. Anter gue pleaseee.” Dehan menyatukan kedua telapak tangan, namun detik berikutnya dia tersenyum penuh arti.”Martabak nggak lupa, kan?”

Naya menepuk jidat. Lupa akan imbalan martabak nya itu.”Oke ayo gasss!” Naya menarik tangan Dehan menuju gedung D di bagian belakang. Karena disitu ada jalan rahasia menuju warung bi Imas.

Bersambung

Baca sebelumnya

Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here