14 Hari Melukis Senja #03

0
171
views

Menyatakan Cinta


 

“Memandangimu dari jauh saja aku sudah bahagia. Sesederhana itu memang.”
Nayanika Deolina

“Sebel gue! Fauzan ngasih kabar sejam doang! Udah gitu ngilangggg lama!” Lesya menggerutu, kesal karena pacarnya itu hanya memberi kabar satu jam, setelahnya menghilang tanpa jejak. Sudah jarang ketemu, jarang memberi kabar pula. Mending satu sekolah, ini beda sekolah. Membuatnya seolah pacaran hanya lewat virtual.

“Mungkin lo cuma rutinitas, bukan prioritas.”

“AHAHAHAH!”

Gelak tawa dari Naya, Dita dan Seril terdengar saat mendengar ucapan Seril yang begitu menusuk di hati Lesya. Bahkan keempatnya sempat menjadi pusat perhatian warga kantin SMA Wijaya.

“Sumpah lo bikin gue naik darah, Ser!” Lesya tidak terima, enak saja dia cuma rutinitas.

“Ya lo coba pikir deh. Fauzan ngasih lo kabar sejam doang dalam satu hari?”

Dita menggeleng pelan dengan ekspresi kesal.”Mana ada pacaran kayak gitu. Itu mah lo cuma jadi bahan gabut doang.”

“Udahlah, dari pada makan hati. Mending jomblo kayak gue.” Naya menampilkan senyum lebar sambil Menaik turunkan alisnya.

Lesya berdecak.”Gue berasa kesepian anjir, kalau nggak punya pacar.”

“Lo kayaknya takut banget kalau jomblo bakal gabut.” Seril kembali makan sotonya.

Lesya menghela napas, sekarang jadi bimbang antara harus memutuskan Fauzan atau tidak. Satu sisi ia juga cape jika terus seperti ini, namun satu sisi lagi, ya seperti yang tadi ia bilang. Kalau ia jomblo takut kesepian.”Argh! Kok gue jadi bingung gini sih?”

“Ye bambang, udah gue bilang mendingan jomblo aja kayak gue.” Naya masih saja bangga dengan kejombloannya.

“Coba tanyakan lagi pada hatimu…” Dita bersenandung, lalu menyodorkan sendok ke hadapan Seril.

Seril berdeham terlebih dahulu.”Apakah sebaiknya kita putus atau terus… LANJUT, NAY!”

“Kita sedang mempertahankan hubungan,” sambung Naya.

“Atau hanya sekedar. MENUNDA PERPISAHANN!”

“Punya temen goblog semua.” Lesya jadi kesal. Bukannya memberi saran, ini malah membuatnya makin kesal. Tidak ingin menanggapi lebih, Lesya

melanjutkan memakan camilan keripik kentang nya. Sementara ketiga temannya itu masih tertawa puas.

Off baperan,” kata Dita.

“Orang baperan nanti nggak ditemenin lho,” tambah Seril.

“Nanti cepet putus lho. Aminn.” Ketiganya kembali tertawa mendengar ucapan Naya.

“Lo semua nggak ngerti keadaan gue gitu?!” Lesya jadi kesal. Bisa-bisanya mereka tertawa di atas penderitaan dirinya.

Dita menghela napas, lalu merangkul Lesya yang memang duduk bersebelahan  dengannya.”Les, kita bertiga udah berapa kali bilang sama lo. Putusin aja Fauzan kalau gini terus. Tapi lo nya aja yang nggak mau denger. So, kita udah cape nanggepin lo.”

“Jangan pas dia udah sakitin lo lebih hebat dari ini. Lo baru ingat omongan kita.” Seril menambahkan.

“Pikirin baik-baik, emangnya lo nggak cape gini terus?”

“Ya cape lah!” balas Lesya atas ucapan Naya.

“Ya terus kenapa masih lo pertahanin oneng!” Naya jadi kesal. Daripada menanggapi curhatan Lesya yang melulu tentang Fauzan, Naya lebih baik makan baksonya untuk mengisi kekosongan perut.

“Kan gue udah… ah udah ah, pusing gue!”

“Ya udah terserah!” balas Dita kesal.

Lesya itu… bilangnya sakit hati dan cape dengan sikap Fauzan yang seperti ini terus. Tapi nyatanya, dia masih mempertahankan hubungan toxic ini.  Padahal Naya, Dita dan Seril sudah sering menasehati gadis bertubuh tinggi itu. Namun sayangnya nasehat itu masuk kuping kiri keluar kuping kanan, yang alhasil selalu berakhir Lesya yang sakit hati karena tidak  mendengarkan ucapan teman.

Saat hendak makan, tatapan Naya justru tidak sengaja berkelana dan jatuh pada seorang cowok dengan jaket parasit berwarna gray. Tepatnya dia duduk di meja kantin pojok kanan, tengah bercanda ria dengan teman-temannya yang lain.

Senyum tipis terbit di wajah Naya melihat cowok itu tersenyum dan tertawa.

Nular anjir senyumnya. Naya membatin. Ia jadi teringat keputusannya semalam. Ya, semalam setelah berguling-guling tidak jelas dengan pikiran dipenuhi satu orang akhirnya Naya menyatakan dan memutuskan, kalau dia…

Menyukai seorang Airlangga Darmawangsa.

***

Bel pulang sekolah telah berbunyi, membuat koridor SMA Wijaya perlahan mulai dipenuhi para murid yang antusias untuk pulang sekolah. Termasuk Naya dan ketiga temannya. Karena hari ini, tidak ada jadwal kumpul ekskul, maka Naya bisa pulang lebih awal.

Mereka berempat tengah berjalan di koridor menuju parkiran sambil bercanda ria. Atau sesekali mengejek Naya yang masih saja jomblo.

“Dit, lo pulang bareng gue? Atau bareng ayang beb?” tanya Naya. Naya memang selalu membawa motor, motor matic berwarna biru kesayangannya. Tidak lupa ia beri nama blue. Sesuai warnanya.

“Bareng ayang beb dong.” Dita tersenyum lebar mendengarnya. Naya hanya mengangguk. Ia dan Dita kadang pulang bersama karena memang jalurnya searah.

“Gue aja deh, yang nebeng bareng lo,” kata Lesya. Namun baru saja Naya mengacungkan jempol, Lesya menepuk jidat.”Oh iya lupa. Gue, kan, di jemput sama Mami gue.”

“Dasar pelupa,” kata Seril, membuat Lesya hanya menyengir.

“Lain kali aja ya, Nay?”

“Iya, terserah lo deh,” balas Naya.

Naya menatap Seril, ingin mengajak pulang bersama biar nggak sendiri-sendiri amat pulangnya. Namun cengiran Seril membuat Naya berucap,”Iya-iya, gue

tahu lo pasti pulang bareng Kak Daffin.”

“Tahu aja, lo.”

“Bebep?”

Keempat nya menoleh mendengar ucapan tersebut. Terlihat seorang cowok berseragam sama namun beda angkatan menghampiri. Lebih tepatnya menghampiri Seril. Siapa lagi kalau bukan Daffin pacarnya Seril. Daffin itu kelas XII jadi tidak heran jika Naya atau Dita dan Lesya akan menyebut Kakak.

“Ciwi-ciwi. Gue mau pacaran dulu, ya? Byeeeee!!” Dengan muka tengil Daffin mengandeng Seril, membuat gadis itu sedikit terkekeh miris melihat ulah pacarnya yang selalu konyol.

“Sombong amat lo, Kak!”

“Orang pacaran mah bebassssss!” balas Daffin menyebalkan saat menjawab ucapan Dita. Dita sedikit berdecak mendengar hal itu.

“Oke, berarti perjalanan kita sampai disini,” ucap Naya ketika sampai di parkiran.

“Yee!” Dita sedikit meninju lengan Naya membuat gadis itu tertawa pelan.”Kayak mau pisah lama aja lo!”

“Kan kalian berdua pasti nunggu depan gerbang. Dan gue bakal sendirian disini.”

“Makannya punya pacar, biar nggak jalan sendiri terus. Kali-kali ada yang boncengin. Kan, enak tuh.” Lesya berucap.

Naya sedikit menggaruk kening, sejujurnya dia memang mau pacaran. Namun masalahnya, yang dia mau bukan mereka yang gencar mendekatinya dan mati-matian mendapatkan dirinya. Oleh karena itu Naya jadi jomblo terus.

Karena Naya tipikal cewek yang sekalinya bilang ‘nggak suka ya nggak suka.’ Namun sekalinya suka, cewek itu akan sangat tulus menyukainya.

“Ah males. Denger curhatan lo bertiga aja udah musingin banget. Apalagi kalau gue nyoba pacaran terus ribut. Ihhhh… makin berat deh ujian hidup gue.” Selain alasan yang tadi, alasan ini tentunya yang paling kuat untuk Naya.

Dita berdecak.”Lo mah gitu terus. Buka hati woy! Yang mau sama lo banyak!”

Naya mengibas-ngibaskan tangannya.”Nggak, nggak. Males gue males.” sebenernya ada sih yang gue suka. Cuma masalahnya, dia emangnya mau sama gue? Naya jadi melanjutkan ucapannya dalam hati dan bertanya pada dirinya sendiri.

“Udah lah. Ceramahin dia kalau soal cowok susah. Hatinya beku banget. Mending kita sekarang ke depan gerbang. Pacar lo udah otw sini tuh.” Dita dan Naya refleks melihat arah dagu Lesya, dan benar saja, seorang cowok yang berjalan dengan dua temannya sudah berjalan ke arah parkiran.

“Ya udah ayo cepet ke depan!” Dita menarik Lesya dengan segera.”Dadah Naya! Hati-hati lo! Jangan berasa di sirkuit!”

Naya tertawa sambil menggeleng pelan. Dasar Dita, ada saja kelakuannya.

Naya berjalan menuju motornya yang berjejer rapih diantara para motor lainnya. Dia  memarkirkan motor tepat di tempat yang teduh karena rimbunnya daun pohon.”Aman deh lo, Blue. Jadi pantat gue dudukin lo nggak panas.” Naya mulai duduk di motor sembari memasangkan helm bogonya.

Namun saat hendak menyalakan mesin, tatapan Naya terkunci pada seorang cowok yang baru saja duduk di motor matic berwarna hitam. Tidak jauh dari tempat motornya parkir, hanya terseling tiga motor. Astagfirullah, Naya jadi gemas sendiri melihat rambutnya yang beterbangan halus tertiup angin. Tanpa sadar Naya benar-benar terpesona melihat itu.

Heran, kenapa gue suka banget sama rambutnya Angga? Padahal mukanya yang ganteng, bukan rambutnya. Naya kembali bertanya dalam hati.

Tersadar, Naya segera memalingkan pandangan ke depan. Takut-takut jika Angga melihat dirinya sedang menatap dia. Bisa gawat, Naya bisa malu tujuh turunan dan tanjakan.

Naya menelenan salivanya. Ia jadi tidak ingin keluar parkiran lebih dulu. Okey, dia harus pura-pura berkaca agar Angga tidak curiga kalau ia menunggu dirinya keluar parkiran lebih dulu.

Saat sedang pura-pura berkaca, Naya mengukir senyum ketika Angga sudah keluar dari parkiran. Gadis itu menghela napas lega, berdekatan dengan jarak beberapa meter saja sudah membuatnya salah tingkah. Apalagi kalau dekat dengan cowok itu persis seperti di aula  kemarin. Ah, Naya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya.

“Murid baru paling keren, ganteng iya. Tapi kok motornya matic sih anjir? Kenapa nggak ninja atau klx aja kayak yang lain?” Naya jadi terheran-heran padahal katanya Angga itu orang kaya.”Tapi baguslah.

Nggak pamer. Apalagi kita samaan pake motor matic.” Naya jadi senyam-senyum sendiri. Ia lalu mulai menyalakan mesin motor dan melaju meninggalkan sekolah sambil senyam-senyum sendiri.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here