14 Hari Melukis Senja #02

0
107
views

Lapangan basket Indoor


“Dia sedeharna. Namun mampu memikat mata.”
Airlangga Darmawangsa.

 

“KITA BERDUA DULUAN YA GIRLS!” ucap Seril.

Naya mengangguk lalu ber-tos tangan ala mereka berempat walau berakhir dengan toyoran di kepala Naya oleh Lesya namun tak urung membuat keempatnya tertawa.

Lesya dan Seril, dua sahabat Naya selain Dita tentunya. Mereka pulang duluan karena tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Sedangkan Naya dan Dita, mereka harus berkumpul di ruangan Paskibra karena pelatih mereka menyuruh untuk berkumpul setelah pulang sekolah. Lagipula, hari ini hari selasa, jadwal kumpul ekskul paskibra tentunya.

“Eh ya ampun!” Naya menepuk jidat, lupa akan sesuatu.

“Kenapa?” tanya Dita heran.

“Emm…” Naya mengantungkan ucapan, kemudian menyengir lebar membuat Dita curiga akan hal itu.

Dita angkat tangan, mengerti maksud cengiran Naya.”Nggak-nggak! Gue nggak mau kasih toleransi lagi!”

“Yahh… jangan gitu dong, Dit. Entar hari Kamis gue bayar deh, nggak ngutang lagi.” Naya Menaik turunkan alis lalu merangkul Dita untuk merayu.”Yaaaa? Lo kan baik hati dan tidak sombong. Sahabat gue yang palinggggggg…. baik!!”

Dita berdecak, sebagai bendahara dalam ekskul paskibra untuk kelas XI dia sudah cukup baik memberikan beberapa kali toleransi untuk Naya membayar uang kas. Namun sayangnya, hal itu malah menjadi keenakan untuk Naya. Dita tidak mau dimarahi oleh Teh Aurin sang pelatih karena ketahuan kalau uang kas tidak pernah sepenuhnya lunas setiap bulannya.

“Nanti gue yang dimarahin sama Teteh. Gue nggak mau ah!”

“Yah… lo gitu banget sih sama gue.” Naya menghela napas. Ia sebenarnya ingin membayar uang kas paskibra dan melunasinya. Namun mau bagaimana? Selalu saja ada godaan jika dia ingin membayar uang kas walau nyicil.

Dita tidak mengindahkan, segera berjalan ke luar kelas menuju ruangan Paskibra. Naya juga mengikuti dari samping, berjalan beriringan di koridor yang mulai sepi.

“Dit?”

“Apa lo?!”

Naya sedikit cemberut.”Galak banget sih?”

“Nanti kalau Teteh nanyain uang kas udah pada lunas apa belum. Lo bilangnya udah, ya? Kayak kemarin-kemarin.” Naya menampilkan senyum, berharap Dita mau mengiyakan.

Dita mengibas-ngibaskan satu tangan.”Nggak! Nggak! Nanti gue yang kena marah!”

“Sesekali nggak apa-apa kali.”

“Enak di lo! Nggak enak digue!”

Naya hanya menyengir, dan itu membuat Dita kesal bukan main. Dita mempercepat langkahnya duluan, tidak mau mendengar ocehan Naya yang terus minta keringanan.

“Dit? Masa iya lo tega sama sahabat lo yang imut lucu ini?”

“Imutan juga gue!”

Naya berdecak sembari menghentikan langkah.”Ah lo mah! Gitu sama gue!”

Dita masih terus berjalan.

“Dittaaaaa!! Please kasih gue keringanan dong. Satu kali lagi deh janji.” Dita masih tidak mendengarkan walau Naya berteriak di koridor.”Ditt? Yuhuuu?? Masa iya lo jadi orang budek dadakan?”

“SALSABILA!”

Dita berdecak, berhenti lalu berbalik.”IYA, IYA! DENGAN TERPAKSA DAN SANGAT TIDAK IKHLAS GUE KASIH LO KERINGANAN LAGI!”

“SAYANGGG DITAAA!”

“Najis!”

****

“Sekolah mau adain festival tahunan. Otomatis anak paskib harus dan wajib banget buat tampilin keahliannya.”

“Teteh mau dua pasukan yang tampil, kelas X dan XI. Karena kelas XII udah harus fokus sama pelajaran-pelajaran.”

Teh Aurin, sang pelatih itu menjelaskan apa maksud dari berkumpulnya hari ini. Ternyata, seperti tahun-tahun sebelumnya, ekskul Paskibra wajib menampilkan keahliannya dalam hal baris-berbaris. Itu membuat para anggota tidak sabar menunjukan keahlian mereka untuk kesekian kali.

Walau pun, beberapa hari menuju hari H pasti akan sangat melelahkan.

“Yahh… teh, kelas XII masa nggak boleh ikut?” Raya, anak kelas XII yang mencoba membujuk.

“Nggak. Nanti kalau nilai pada anjlok, entar alasannya karena Paskib, karena Paskib.” Teh Aurin menolak. Bukan tanpa alasan dia seperti ini.

“Ya nggak dong, Teh. Kita kan bisa ngatur jadwal. Mana buat belajar, dan mana buat latihan.” Inggit selaku temannya Raya juga sama ikut berbicara.

“Pokoknya Teteh bilang nggak ya nggak.” Teh Aurin masih kukuh. Itu membuat kelas XII hanya bisa menghela napas pasrah.

Kalau terus membujuk, mereka bisa kena marah. Teh Aurin itu… kelihatannya kalem, anak Paskib sekolah lain bilangnya juga kalau teh Aurin pelatih paling baik. Memang benar Teh Aurin itu baik, namun jika marah. Kelihatannya sebelas dua belas dengan macan yang sedang kelaparan.

“Yesss tampil lagi tahun ini!” Naya bersorak kegirangan. Tidak sabar menanti acara festival sekolah.

“Kok gue deg-degan, ya? Belum juga mulai.” Sashi memegang dada, merasa grogi sebelum waktunya.

“Ya elah, lo mah kebiasaan,” balas Dita.

Sashi mengipasi dirinya dengan tangan, untuk menghilangkan grogi yang mendadak datang.”Tenang, tenang. Masih lama, masih lama.”

“Oke, sekarang kita ke lapangan buat langsung tentuin nomor. Mau di lapangan outdoor? Atau lapangan basket indoor?”

Suara Teh Aurin mengalihkan perhatian ketiganya. Dengan semangat mereka bertiga menjawab.”BASKET INDOOR!”

***

“Gila sih, ini bener-bener cantik! Body nya. BEUHHHH NGGAK ADA LAWAN!” Darka memperlihatkan sebuah foto seorang gadis seksi pada Rendra temannya.

“Astagfirullah!” Rendra mengusap wajah Darka.”Insyaf boy! Dunia udah tua!”

“Halah!

 Nggak usah munafik lo! Lo juga tertarik, kan, sama yang kayak gini?”

Darka mengotak-atik ponselnya.”Kalau yang kayak gini gimana?” Darka

menunjukan foto perempuan yang lebih seksi dari tadi.

“Beuhhh beningnya!”

“Emang dasar bego!” Darka menoyor kepala Rendra.

“Ga?” tanya Daniel yang sedari tadi diam.

Cowok yang sedang memainkan bola basket di pinggir lapangan dengan ketiga temannya yang duduk di tribun itu menoleh. Ah ralat, lebih tepatnya dua teman karena Daniel adalah sepupunya.”Apa?”

“Lo pindah kesini belum dapat incaran? Perasaan waktu di Jakarta. Lo, kan, paling gencar deketin cewek.”

Airlangga Darmawangsa, atau yang kerap disebut Angga itu berdecak. Sebal karena sepupunya ini terus memojokan dirinya seolah ia adalah seorang fakboi.

Padahal nyatanya tidak begitu, ia hanya bersikap frendly ke semua cewek. Tidak ada yang salah kan?

“Gue bukan fakboi, Niel. Udah berapa kali gue bilang.”

“Halahhh… bukan fakboi tapi deketnya sama cewek terus.” Daniel masih kukuh, karena ia berbicara sesuai apa yang ia lihat.

“Deket belum tentu fakboi. Sama hal nya kayak, deket belum tentu jadian.”

Rendra dengan tiba-tiba ikut menimpali, membuat Darka yang ada di sebelahnya menepuk punggung cowok itu beberapa kali. Perihatin dengan nasib temannya yang dialami.

“Padahal cewek-cewek di Bandung pada cantik. Rata-rata pada manis lah.” Kali ini Daniel ingin mencoba mencuci otak Angga.

“Nanti gue cari. Belum nemu yang pas.” Angga menjawab dengan kalem sambil terus memainkan bola basket nya.

Daniel yang hendak berbicara mengurungkan niat. Karena atensi mereka berempat teralihkan pada pintu masuk lapangan basket indoor. Banyak segerombolan orang yang masih memakai seragam kecuali salah satu dari mereka yang memakai baju bebas.

“Anak paskib, ya?” tanya Darka.

“Iya anjir,” jawab Rendra. Dia mengembangkan senyum melihat para gadis yang rata-rata memiliki paras yang manis.

Daniel menyikut lengan Angga yang sudah beralih duduk di sebelahnya.”Tuh, anak Paskib disini juga pada cantik-cantik. Lo nggak tertarik apa sama salah satu dari mereka?” bisiknya di telinga Angga.

Angga sedikit mendelik, kenapa dari dulu sepupunya ini terus gencar menjodohkan ia dengan para perempuan? Padahal ia bisa mencari seorang yang pas dengannya.”Lo dari dulu gencar banget nyuruh gue pacaran. Heran gue. Yang jomblo gue. Kok lo yang risih ya?”

Daniel berdecak.”Ya kali gue nggak risih dan kesel sama lo. Lo itu selalu dikelilingi cewek-cewek man, tapi kenapa lo nggak tertarik satu pun? Masih belum move on, kan, lo sama si Queen?”

“Gue nggak pacaran setelah putus dari Queen, bukan berarti gue belum move on!”

“Ya makannya pacaran!”

“Terserah lo deh!” balas Angga kesal.

Perhatian Angga sedikit teralihkan pada seorang gadis berambut panjang yang tergerai. Senyumnya sedikit terukir ketika mengingat siapa gadis itu. Gadis yang ia bantu membersihkan aula tadi pagi.

“Niel?” Daniel yang sedang mengobrol bersama Rendra dan Darka menoleh.”Itu namanya siapa?”

“Yang mana, yang mana???” Daniel langsung antusias, bahkan kelewat antusias mendengar Angga menanyakan nama seorang perempuan.”Itu, yang rambutnya panjang. Pake jam tangan warna hitam.”

Mata Daniel menyipit, melihat telunjuk Angga yang menunjuk salah satu dari banyaknya perempuan di sana. Setelah memperhatikan dengan teliti, dia mengangguk mantap.”Ohhhh… itu si Naya. Nayanika Deolina, temen SD gue. Kenapa? Suka lo sama dia?”

Angga menggeleng pelan.”Gue cuma tanya namanya doang.”

“Emmm…” Daniel menahan senyum.”Suka ya lo sama dia?”

Angga jadi menyesal telah bertanya.”Terserah lo deh!”

Selanjutnya, mereka berempat serempak menoleh pada seorang perempuan yang datang menghampiri. Dia memakai baju bebas beda dari yang lain. Siapa lagi kalau bukan Teh Aurin, pelatih Paskibra SMA Wijaya.

***

“Pssstttt…, Nay? Naya?!” Sashi berbisik-bisik pada Naya yang mengobrol dengan temannya yang lain.

“Apa, Shas?”

“Itu Angga. Angga si murid baru yang pindahan dari Jakarta. Dia lihat gue!!”

 Sashi menahan pekikan. Ketika tatapannya tadi bertemu dengan tatapan tenang milik Angga.

Dahi Naya mengkerut, memperhatikan keempat cowok yang sedang mengobrol dengan Teh Aurin.”Ohhh…”

“Iiih! Kok jawaban lo gitu doang sih?!” Sashi berdecak sebal karena tanggapan Naya tidak sesuai ekspektasi.

Naya menghela napas kasar.”Ya terus gue harus gimana??”

“Ya lo bilang gini kek.’Aduh iya, kayaknya dia suka sama lo, deh, Shas.’ atau ‘bener dia liatin lo, tunjuk lo lagi. Kayaknya lo bakal masuk kriteria ceweknya deh.’ GITU KEK!”

Naya kembali menghela napas, Sashi pedenya memang tingkat akut. Jadi tidak heran jika dia akan seantusias ini. Apalagi Angga adalah cowok yang dia sukai.

“Gue nggak mau kasih lo harapan palsu. Entar jatuhnya sakit.”

“Ya iyalah, jatuh kan ke bawah. Bukan ke atas!” Aina ikut menimpali.

“YEEE! NYOSOR AJA LO!” Sashi mendelik jijik pada Aina yang menjulurkan lidah.

“Kumaha aing we.” Aina malah semakin meledek Sashi, yang membuat gadis itu semakin dibuat kesal. Untung Sashi dalam mode sabar, kalau tidak,keributan pasti akan terjadi karena mereka memang sulit untuk akur.

Tepukan Teh Aurin yang menyuruh mereka berbaris membuat mereka semua segera berbaris. Teh Aurin mulai memberikan nomor, lebih jelasnya, setiap orang dalam satu pasukan akan diberi nomor dari satu sampai lima belas sesuai tinggi badan. Otomatis, yang paling tinggi akan menjadi nomor satu atau penjuru paling kanan. Dan yang paling pendek, akan menjadi nomor lima belas di bagian belakang pojok kiri paling terakhir.

Setiap pasukan diisi lima belas orang, dengan formasi baris tiga saf lima banjar, dan hitungan nomor dihitung dari penjuru paling kanan.

Tujuan memberikan nomor pada setiap anggota. Biasanya agar lebih mudah untuk menegur siapa yang sah tanpa harus menyebutkan nama. Atau mempermudah anggota untuk menghafal dalam fareasi dan formasi. Intinya begitu.

“Nay. Kamu nomor tujuh.”

Naya mengangguk. Lalu mulai berbaris di barisan nomor tujuh. Dalam saf dua, banjar dua.

“Nomor tujuh lagi ya lo,” ucap Dita yang mendapatkan nomor enam. Otomatis bersebelahan dengan Naya. Kemarin-kemarin gadis itu mendapat nomor dua.

Naya mengacungkan jempol.”Yoi, gue, kan, pawang nomor tujuh.” Naya tertawa setelahnya begitu pun juga Dita.

Saat sedang mengobrol ringan dengan Dita karena menunggu yang belum kebagian nomor. Pandangan Naya teralihkan pada empat cowok yang terlihat di tribun sedang duduk memperhatikan anak Paskibra. Namun satu yang membuat Naya terkejut dan refleks memalingkan wajah. Angga, tersenyum padanya.

Demi apa dia senyum sama gue?!

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here