10 Ramadhan Suamiku Tak Pulang

0
327
views

Salah satu stasiun televisi swasta, semalam menyiarkan hasil sidang Isbat. Pemerintah sepakat mengumumkan awal bulan suci Ramadhan mulai pagi ini. Dua bulir air mata terjatuh dari sudut netraku. Bukan karena harus menjalani Ramadhan di tengah pandemi Covid-19, tapi aku teringat suamiku, ayah dari Hafidz anakku.

Genap sudah sepuluh tahun suamiku pergi tak kembali. Tanpa kabar sama sekali. Bermacam upaya telah kulakukan demi menemukan kembali suamiku, namun hasilnya nihil. Hingga tahun ke empat kepergiannya, aku masih berupaya untuk mencarinya. Semua terhenti, setelah tiada lagi uang di tanganku.

Andai fisikku sangat memungkinkan untuk bekerja, tentu aku takkan berhenti mencari Mas Pras, suami yang telah menghadirkan malaikat kecil dalam hidupku, sebagai pelipur lara. Kaki yang hanya sebelah kanan kumiliki sejak lahir, sangat mengganggu aktifitasku. Bukan keinginan, dan juga cita-cita menjadi orang yang cacat, tapi takdirNYA yang menghendaki demikian.

Sebelas tahun lalu aku mengenalnya. Dia, Prasetyawan. Sosok lelaki sederhana, namun mampu membuatku berharga. Cacat yang kumiliki tak menghalangi besarnya cinta dia pada diri ini. Betapa tersanjung, dan berbunga hati ini saat dia menyatakan niatnya menikahiku setelah tiga bulan perkenalan kami.

“Dek, maukah kau menjadi istriku, ibu dari anak-anakku?” tanya Mas Pras sembari berlutut dan mencium jemari tanganku.

Bagai tersanjung, anganku melambung tinggi. Seumur hidup, ini yang pertama kali kurasakan bahagia tiada terkira.

“Aku cacat, Mas. Aku hanya akan menjadi beban untuk hidupmu. Keluargamu tentu juga tak ingin mendapat menantu seperti aku.”

“Aku tak peduli, aku mencintaimu. Aku yang akan menikahimu, bukan keluargaku.”

“Mas yakin? Tak menyesal menikahi perempuan miskin, dan cacat sepertiku?”

“Aku janji, akan menjadikanmu ratu dalam hatiku. Percayalah,” ucapnya sembari mengecup keningku.

Akhirnya akupun menikah. Aku Puput, si anak bungsu yang cacat ini akhirnya menikah. Aku bersyukur kedua belah pihak keluarga besar kami merestui pernikahan kami. Tak ada pesta, hanya ijab kabul yg menjadi saksi atas sahnya hubungan kami berdua.

Selepas ijab, kami tinggal bersama dengan orang tuaku. Aku anak bungsu, tak boleh jauh dari orang tua. Apalagi dengan kondisi kaki yang hanya sebelah. Kebetulan Mas Pras kerja tak jauh dari tempat tinggalku. Hanya sekitar 12 km dari rumah. Aku tak diijinkan bekerja sejak menikah. Pekerjaanku sebagai penjaga warnet kutinggalkan demi bhaktiku pada suami.

Kekaguman atas sosok suami, semakin bertambah. Saat aku dinyatakan positif hamil, nyaris tak pernah aku melakukan pekerjaan apapun. Semua pekerjaan rumah tangga diambil alih oleh suamiku. Dia teramat memanjakanku. Tepat setahun pernikahan kami, lahirlah bayi laki-laki yang sangat tampan. Wajahnya mirip denganku, kulitnya mirip suamiku. Bayi itu sangat sehat, dan normal. Memiliki kedua kaki seperti ayahnya.

Tepat usia dua bulan bayiku di hari itu. Tak ada yang aneh. Semua wajar seperti biasanya. Tak ada sepotong baju yang dibawa suamiku bekerja. Hanya berbekal tas ransel kecil berisi perlengkapan kerjanya sebagai kuli bangunan. Hingga malam ia tak pulang. Sehari, dua hari, seminggu, tak kunjung kembali, dan tak satupun yang tahu di mana keberadaannya. Tahun berganti tahun, tak juga dia pulang menengok anaknya.

Herannya, sejak melahirkan Hafidz, tak satupun keluarga suami yang datang mengunjungi aku, dan Hafidz anakku. Tak hanya orang tuanya, tapi seluruh keluarga besarnya. Mereka seolah tak pernah mengenalku. Acuh tak acuh, dan tak peduli dengan keadaanku.

Di tahun kelima kepergiannya, sebuah sms masuk ke telepon genggamku. Dari pengirimnya aku hafal, itu benar nomor milik suamiku. SMS itu berbunyi,

( Maafkan aku yang telah meninggalkanmu. Kutitipkan Hafidz padamu, maaf aku tak pernah bisa kembali untukmu )

Tak habis pikir olehku, apa arti semua ini? Jika cacatku jadi beban untukmu, mengapa kamu nekat menikahiku? Dan setelah itu mencampakkanku. Nomor itu tak pernah bisa dihubungi lagi. Jujur aku sangat merindukanmu, namun aku sadar, kau tak menghendaki kebersamaan kita lagi.

Jika saat ini aku masih menunggumu, aku hanya ingin kau putuskan bahwa aku bukan istrimu lagi. Jika saat ini aku menunggu, aku ingin kau tahu, ada Hafidz yang mestinya jadi tanggung jawabmu.

Setelah kepergianmu, tak lama ibu, bapak, silih berganti pergi meninggalkanku selamanya. Hatiku semakin hancur, tak ada lagi tempatku mengadu. Rumah yang kutempati pun menjadi perselisihan di antara saudara-saudara kandungku. Jika aku terusir, aku ikhlas. Tapi Hafidz, dia anakmu, tanggung jawabmu. Semoga di manapun saat ini kau berada, terketuk nuranimu untuk Hafidz. Khusus untuk Hafidz, bukan untukku.

by: Hanifa Larasati

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here