Wanita Paling Berpengaruh di Indonesia

0
630
views
Martha Tilaar

B

agi warga negara Indonesia nama merk Sari Ayu pasti sudah tidak asing lagi. Bahkan mungkin anda merupakan salah seorang konsumen fanatik kosmetika produk dalam negeri itu.
Produk Sariayu adalah salah satu brand kosmetik paling populer di Indonesia bahkan menjadi ikon lokal di mata dunia. Produk ini bisa dikatakan sebagai salah satu market leader bisnis kosmetik tanah air.

Dibalik kesuksesan besar produk Sariayu terdapat nama sang pendirinya, Martha Tilaar. Dialah yang merintis perusahaan yang memproduksi kosmetika Sari Ayu dari bawah hingga berkembang menjadi besar seperti sekarang ini.

Ia adalah sosok wanita Indonesia yang menarik karena kegigihannya dalam menjalankan usahanya. Kiprahnya di dunia usaha layak menjadi sumber insirasi siapapun yang ingin maju.

Masa Kecil

Martha Tilaar lahir pada tanggal 4 September 1937 di salah satu kota di Provinsi Jawa Tengah yaitu Kebumen. Ia lahir dari sebuah keluarga yang cukup bersahaja.

Ketika masih bayi Martha sering sakit-sakitan. Bahkan ketika masih dalam kandungan, sang ibunda seringkali mengalami beragam masalah dengan kesehatannya. Seperti takut melihat sinar matahari, tidak mau bergerak, dan tidak mau makan karena perut terus menerus merasa mual. Bayi Martha sering terserang peyakit. Tak kurang 13 orang dokter pernah merawatnya.

Ketika tumbuh menjadi seorang anak,  sejak dini Martha diajarkan oleh ibunya beragam keterampilan seperti berjualan kecil-kecilan, disuruh menghitung uang, hingga memilih dan memastikan mana telur segar dan mana yang busuk.

[artikel number=5 tag=”bisnis” ]

Mungkin itu dilakukan Sang Ibunda karena ia selalu dihinggapi rasa kekhawatiran yang mendalam terhadap perkembangan Martha kecil sebagai akibat ia dalam kondisi tidak fit selama mengandung dan ketika masih bayi Martha selalu dalam kondisi kurang sehat.

Martha Tilaar remaja adalah gadis yang tomboy. Tidak pernah bisa tinggal diam. Tingkah laku dan cara berpakaiannya seperti anak lelaki kebanyakan. Meski rumah eyangnya berpagar tinggi ia tetap saja bisa menyelinap keluar untuk pergi bermain layang-layang, menikmati pemandangan desa, atau menikmati sawah-sawah yang menghampar hijau. Ia bahkan tak ragu mencebur ke dalam sungai yang mengalir untuk berenang.

Kenakalan sebagai anak-anak salah satunya adalah suka mencuri uang ibunya. Biasanya, uang itu digunakannya untuk jajan. Ketika aksinya ketahuan,  ibunya menasehati  jika ingin punya uang banyak untuk jajan,  Martha harus bekerja keras.

Nasehat itu dituruti benar. Bermodalkan uang jajan pemberian orangtua Martha kecil membeli jajanan di toko, seperti kacang, lalu dibungkusnya kecil-kecil untuk kemudian dijual kembali kepada teman-teman sekolah. Ia memperoleh uang jajan lebih jadinya.

Ketika ia melihat tanaman Sogok Telik dan Jali-jali Putih, yang tumbuh subur di tanah milik eyangnya, ia rangkai menjadi satu paduan yang bagus. Hasilnya berupa perhiasan kalung dan gelang yang indah dari dua jenis tanaman tadi itu. Ia menjualnya kepada teman-temannya di sekolah.

Di masa kecil, Martha dikenal sebagai anak yang paling ‘elek’ (bahasa Jawa = ‘jelek’), dan sangat tidak suka merawat diri jika dibandingkan saudara lainnya. Hobi berenang membuat kulit Martha tidak sehat, rambut yang panjang memerah semua, wajah pun tak karuan.

Tapi sejak kecil Martha sudah menyukai budaya tradisional. Di kampung halamannya, Gombong, Kebumen Jawa Tengah, gadis cilik ini sudah berkenalan dengan wayang karena di halaman rumah kakeknya, Eyang Pranoto Liem, sering digelar pertunjukan wayang kulit. demi wayang kulit, ia akan berjuang menahan rasa kantuk agar tak terlewatkan olehnya pertunjukan yang selalu digelar ketika malam sudah larut itu.

Setelah menjadi gadis muda, ia menjalani studi di Jurusan Sejarah Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta dan lulus pada tahun 1963. Ia pun kemudian bekerja sebagai seorang guru.

Namun kebiasaan tak mau merawat diri di masa anak-anak dan remaja berlangsung terus. Ia selalu diingatkan ibunya bahwa sebagai seorang guru ia akan sering bertemu dan tampil di hadapan murid-murid. Dengan diantar Sang Ibu, Martha Tilaar “dipaksa” mengikuti les tata kecantikan ke Titi Purwosoenoe. Sejak saat itulah Martha mulai jatuh cinta terhadap kecantikan.

Martha juga menyempatkan diri melamar bekerja sebagai sales girl produk kosmetika Avon. Setiap sore ia keluar masuk asrama mahasiswa dan mengetuk pintu untuk lalu berteriak lantang, “Avon Calling!”  

Lalu suatu ketika datanglah seorang pangeran dalam kehidupannya. Ia mendapatkan lamaran dari seorang putra ningrat bernama H.A.R Tilaar. Merasa sreg dengan pria itu, Martha memutuskan menerima pinangan itu dan menikah dalam usia muda.

Sebagai istri yang baik, ia mengkuti sang suami yang studi ke Amerika Serikat. Namun Martha bukanlah tipe istri “konco wingking” atau “swargo nunut neroko katut”. Ia melanjutkan studinya, tapi bukan di bidang yang ia pelajari sebelumnya, bidang sejarah. Ia memilih mengambil studi kecantikan dengan masuk ke salah satu universitas kenamaan Academy of Beauty Culture yang berada di Bloomington, Indiana. Disana ia belajar secara mendalam tentang dunia kecantikan dan juga kosmetik.

Selepas kuliah, Martha langsung menerapkan ilmunya dengan membuka sebuah salon kecil masih di Amerika. Ya Martha, yang semasa kecilnya dikenal sebagai gadis tomboy dan ‘elek’ mendirikan sebuah salon.  kecantikan.

Perjuangannya menjalankan salon pertamanya tersebut tidaklah mudah. Ia mencari pelanggan dengan cara promosi dari pintu ke pintu. Sasarannya adalah istri para mantan dosen serta para wanita Indonesia atau istri pejabat Indonesia yang ikut ke Amerika. Dari situ pelan tapi pasti usahanya tersebut berkembang. Usaha dan kerja keras yang ia tunjukkan berbuah manis.

Merambah Dunia Usaha

Sekembalinya di tanah air, tahun 1970,  DR. Martha Tilaar melanjutkan usahanya di garasi kediaman orangtuanya, Yakob Handana, di di Jalan Kusuma Atmaja No.47 Menteng, Jakarta Pusat Jakarta Pusat.

Salon yang ia dirikan pada 3 Januari 1970, ia namakan “Martha Salon“. Usaha Martha menempati sebuah ruangan berukuran 6 x 4 meter. Di sini ia sekaligus membuat pula produk-produk kecantikan dari bahan alam.

Pengalaman semasa di Amerika menjadi modal untuk pengembangan usahanya.  Dengan modal nama yang sudah cukup baik, tidak terlalu sulit baginya untuk menjaring para pelanggan salonnya tersebut.

Ia menghubungi kembali para mantan pelanggannya semasa di Amerika. Ia memperkenalkan salon barunya yang ada di daerah Kebumen tersebut kepada mereka. Tak heran bila perkembangan salon miliknya terbilang cukup cepat.

Pada tahun 1972 Martha Tilaar membuka salon kecantikannya yang  kedua, yaitu Martha Griya Salon di Jalan Anggur No. 3 Cipete, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.  Di salon inilah, untuk pertama kalinya perawatan kecantikan tradisional berbasis tanaman herbal dan bisnis kecantikan dimulai. Di sini ia mengembangkan brand kosmetik kreasinya sendiri yang ia namakan Sariayu Martha Tilaar.

Peluang emas datang ketika dirinya mendapatkan tawaran kerjasama dari Theresia Harsini Setiady yang merupakan salah satu pendiri PT Kalbe Farma. Ia ditawari kerjasama pengembangan produk kosmetik miliknya. Ia kemudian membangun perusahaan bernama PT Martina Berto pada tahun 1977 untuk menjalankan kerjasama tersebut. Tahun itu juga perusahaannya meluncurkan brand Sariayu sebagai produk kecantikan dan jamu modern.

Setelah kerjasama berjalan selama beberapa tahun, tidak disangka beberapa produk Sariayu Martha Tilaar ternyata mendapatkan respon yang luar biasa dari para konsumen lokal. Itu berkat inovasinya mengambil tema-tema kecantikan alami dari tiap daerah di Indonesia, yang membuat produk-produk Sariayu Martha Tilaar memiliki keunikan tersendiri.

Pada tahun 1981. PT Martina Berto mendirikan pabriknya sendiri di kawasan industri Pulogadung dan Martha mulai menjalankan usaha sendirian.

Pada tahun 1983. PT Martina Berto kembali mendirikan pabrik keduanya di Pulogadung. Di tahun yang sama, PT Sari Ayu Indonesia didirikan untuk mendukung PT Martina Berto dalam mendistribusikan produk-produk kosmetiknya.

Usahanya mulai mengalami titik balik menjadi imperium bisnis pada tahun 1987. Ketika itu secara cerdik dan unik ia mempopulerkan “Senja di Sriwedari” sebagai trend tata rias baru, sebuah ide yang diilhami oleh kekayaan alam dan budaya Indonesia.

Martha Tilaar memang dikenal selalu mengadopsi nama,  tempat dan unsur budaya suatu daerah, yang lalu dipadukan dengan trend busana daerah, di setiap produk Sariayu Martha Tilaar. Dengan cara itu, Sariayu berhasil tampil sebagai trendsetter tata rias wajah  wanita Indonesia.

Di samping itu dia sendiri memang sangat menghargai produk dalam negeri. Buktinya, saban hari ia selalu lekat dengan  busana buatan dalam negeri. Ia kerap menggunakan kebaya,  batik, atau berbagai busana daerah Indonesia.

Pemerhati tata rias itu menciptakan konsep Gaya Warna Disainer (1998). Ini adalah sebuah tata rias yang mengambil unsur budaya Jawa Barat dan Kalimantan, Sumatera Bergaya (1989) dari Sumatera, Puri Prameswari (1990) dari etnik Cirebon dan Bali, Senandung Nyiur (1991) dari Pantai Indonesia, Riwayat Asmat (1992) dari Irian Jaya/Papua, Rama-Rama Toraja (1993), serta konsep-konsep dari berbagai daerah lain seperti Banda/Ambon, Jakarta,  Aceh. Puncaknya adalah trend warna Pusako Minang dari Minangkabu.

Melalui pendekatan etnik Martha Tilaar berhasil menjalin hubungan emosional dengan konsumen. Bahkan ia berhasil menyelamatkan biduk  bisnisnya dari hantaman krisis ekonomi. Sebab dengan konsep baru itu Martha Tilaar berhasil meraih penjualan besar dan pernah bertumbuh hingga 400 persen.

Tahun 1988-1990. PT Martina Berto melahirkan merek-merek kosmetika baru seperti Cempaka, Jamu Martina, Pesona, Biokos Martha Tilaar, Caring Colours Martha Tilaar, dan Belia Martha Tilaar.

Tahun 1993-1995. Terjadi proses akuisisi oleh sejumlah perusahaan ke dalam PT Martina Berto. Di antaranya PT Tiara Permata, Aromatic Oil Of Java Martha Tilaar, Dewi Sri Spa Martha Tilaar, Biokos Martha Tilaar, Belia Martha Tilaar, Berto Martha Tilaar, dan Jamu Garden Martha Tilaar.

Walaupun sudah menggurita, produk-produk Martha Tilaar masih sering diremehkan. Ia pernah mendapatkan pengalaman yang tak mengenakkan ketika hendak menyewa dan membuka gerai jamu dan kosmetika di beberapa mall dan plaza terkemuka di Jakarta.

Di tempat-tempat seperti itu dia pernah ditolak menyewa tempat. “Dulu kalau saya mau sewa tempat diusir. Mereka hanya mau menjual produk branded. Dibilang standar plazanya akan turun karena dianggap tidak ada image,” kata Martha Tilaar, yang tak mengenal kata menyerah dalam hidupnya.

Menjawab penolakan itu Martha Tilaar menyegerakan pendirian Puri Ayu Martha Tilaar, sejak Mei 1995, sebagai gerai jamu dan kosmetika Sariayu sekaligus berfungsi sebagai pusat pelayanan konsumen. Gerai dan pusat pelayanan konsumen ini berada dalam bendera usaha PT Martha Beauty Galery. Gerai Puri Ayu Martha Tilaar pertamakali berdiri di Graha Irama, di kawasan elit Kuningan, Jakarta Selatan, lalu berkembang pesat memasuki kota-kota besar lain di Indonesia.

Tahun 1996. PT Martina Berto menjadi pabrik kosmetika pertama di Indonesia yang mendapatkan sertifikat mutu ISO 9001. Tahun 1999. PT Martina Berto membeli saham Kalbe Group, dan sejak saat itu Kalbe Group sepenuhnya berada di bawah manajemen Martha Tilaar Group.

Pada tahun 2000. PT Martina Berto mendapatkan sertifikat ISO 14001.
Dua tahun kemudian, tepatnya pada bulan Juli 2002 Sekjen PBB Kofi Annan mengundang Martha Tilaar hadir dalam forum Global Compact, di New York, AS.

Di forum itu para pengusaha yang diundang diminta mempromosikan praktik berbisnis yang baik dalam bidang hak asasi manusia, tenaga kerja, dan lingkungan, yang telah dipraktikkan. Tujuannya agar setiap pengusaha menempatkan masalah sumberdaya manusia, sumberdaya alam, lingkungan, dan hak-hak asasi manusia sebagai prioritas penanganan dunia usaha.

Pada tahun 2001-2009. PT Martina Berto menambahkan merek-merek baru di segmen pasar berbeda, yaitu Professional Artist Cosmetics (PAC), Dewi Sri Spa, Jamu Garden dan sebagainya.

Dengan produk-produk berkelasnya seperti  Biokos, Belia, Caring Colours, Professional Artist Cosmetics (PAC), Aromatic, Jamu Garden, kelompok bisnis Martha Tilaar kini sudah go international. Produk-produk itu dipasarkan di kantor-kantor pemasaran Martha Tilaar di luar negeri seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, bahkan ke Los Angeles, AS.


Martha Tilaar juga memiliki puluhan spa di luar negeri yang tetap menempelkan merek dagang Martha Tilaar. Seperti di Malaysia, bertempat di Crown Princess Kuala Lumpur pembukaan spa Martha Tilaar dihadiri oleh Permaisuri Agung Siti Aishah. Spa ini didirikan khusus untuk memenuhi banyaknya permintaan terutama pelanggan dari salon di City Square, Kuala Lumpur.

Tahun 2010. Martha Tilaar Group memasuki usia 40 tahun. Tahun 2011. PT Martina Berto menjadi PT Martina Berto Tbk. Kinerja dan perkembangan PT Martina Berto memiliki pertumbuhan begitu pesat, sejumlah penghargaan baik nasional maupun internasional juga telah di tangan.

Pada tahun 2011. Martha Tilaar Group terpilih menjadi salah satu dari 55 perusahaan dunia yang menjadi anggota Global Conpact Lead PBB di Davos, Switzerland. Ini adalah penghargaan yang diberikan oleh Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki Moon di New York karena Martha menjalankan perusahaan berdasarkan 10 prinsip etika Global Compact, seperti hak asasi manusia, tenaga kerja, konservasi pengendapan, dan anti korupsi sejalan dengan delapan tujuan pembangunan millennium.

Pada tahun 2012. PT Martina Berto Tbk menerima penghargaan sebagai Pioneer in Technology dari Kementrian Industri, yang diserahkan oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Pada tahun yang sama  PT Martina Berto Tbk mendapat penghargaan dalam Asia Responsible Entrepreneurship Awards 2012 untuk kategori Green Leadership.

Kini, Martha Tilaar Group terdiri atas PT Martina Berto Tbk, PT Cedefindo (strategi pemasaran dan produksi), PT SAI Indonesia(distributor produk-produk Martha Tilaar Group), PT Martha Beauty Gallery (pelayanan konsultasi dan pendidikan kecantikan, seperti Puspita Martha School of Beauty), Martha Tilaar Spa, Cipta Busana, Art and Beauty Martha Tilaar, PT Cantika Puspa Pesona (manajemen waralaba domestik dan internasional untuk Martha Tilaar Salon Day Spa, Easter Garden Spa Martha Tilaar), PT Creative Style (perusahaan agensi periklanan), PT Kreasi Boga (agensi tenaga kerja), dan PT Mahligai Citra Bangsa (jasa wedding organizer dan produksi majalah).

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here