Terbuat dari Bahan Singkong, Kantong Belanja Ramah Lingkungan

0
120
views

befren.com– Plastik merupakan bahan yang tidak mudah terurai secara alami dan ini menjadi masalah serius, Produk polimerisasi sintetik atau semi-sintetik. Mereka terbentuk dari kondensasi organik atau penambahan polimer dan bisa juga terdiri dari zat lain untuk meningkatkan performa atau ekonomi. Masalah plastik baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Shradha Rungta sangat prihatin akan hal itu. Namun, ia melihat kenyataan pahit bahwa kehidupan sehari-hari tidak bisa lepas dari plastik, akan tetapi untuk menjaga lingkungan kita harus benar-benar memperhatikan hal ini.

Dengan semangat dan tekad menyelamatkan lingkungan dan mengurangi sampah plastik, Rungta mulai melakukan serangkaian inovasi dan percobaan. Setelah menang kompetisi ‘Hack the Challenge’ pada November 2019 yang diselenggarakan Impact Hub Jakarta, perempuan keturunan India itu meluncurkan Sainbag atau imnotplasticbag, kantong belanja ramah lingkungan dengan bahan baku alami yang 100 % terbuat dari umbi kayu yaitu ubi dan singkong.

Husain Baomar digandeng sebagai mitra untuk usaha yang sejak berupa embrio bertujuan menghasilkan produk yang alami, sebagai wujud kepeduliannya pada lingkungan. Ia menjelaskan, SainBag tidak meninggalkan residu sehingga aman bagi tanah, bahkan aman bila termakan hewan. SainBag juga tidak akan bertumpuk menjadi sampah yang mencemari lautan dan membuat dangkal perairan.

Shradha Rungta mengatakan, “Masalah plastik mungkin ada solusinya tetapi hampir tidak mungkin menghabiskan semua ‘plastik sekali pakai’ seperti kantong plastik yang biasa digunakan sebagai tas kantong belanja. Kita bisa mengurangi produksi dan pemakaian kantong plastik tersebut.”

Bahan baku SainBag cepat tumbuh, mudah ditanam, relatif murah dan melimpah di Indonesia. Kantong belanja yang lantang berteriak bahwa dia bukanlah plastik itu berasal dari campuran zat tepung dua umbi kayu tersebut sehingga mudah terurai, bahkan hancur bila diseduh air panas dan terurai secara alami di dalam tanah.

Sejak diluncurkan pada Januari 2018, Rungta setiap bulan memproduksi sekitar 1,5 juta lembar untuk setiap jenis produk SainBag. Itu artinya menghabiskan 12-15 ton campuran zat tepung ubi dan singkong.

Pasar SainBag adalah toko, restoran, rumah sakit dan klinik, selain masyarakat konsumen di Indonesia. Di luar itu, kantong ramah lingkungan itu juga diekspor ke beberapa negara di Timur Tengah, Eropa bahkan Amerika Serikat.

Mengingat teknologi yang digunakan, produk ramah lingkungan yang dapat terurai secara alami, harga SainBag tidaklah sama dengan kantong plastik yang selama ini beredar. Dengan harga berkisar 1.000 hingga 3.000 rupiah per kantong, Aisa mengakui harga tersebut jauh lebih mahal dibandingkan kantong plastik yang selama ini ia gunakan.

Sejumlah toko roti kini juga beralih ke Sainbag untuk kantong belanja, celemek, dan kantong sampah. Rumah-rumah sakit semakin banyak yang menggunakan SainBag untuk seprei tempat tidur dan kantong pakaian kotor. Toko-toko hewan peliharaan mulai menggunakan SainBag untuk kantong kotoran hewan peliharaan.

Melihat produksinya semakin berkembang, Shradha Rungta merasa bangga khususnya bagi mereka yang terlibat pembuatan kantong ramah lingkungan itu dan juga pengguna Sainbag. Ia berpandangan, upaya untuk keluar dari ketergantungan pada plastik haruslah dilakukan bersama. Dan ia menawarkan kantong plastik dari umbi kayu yang lantang berteriak “Saya Bukan Plastik.”

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here